EdukasiKabar

Pembelajaran Luring Di SDN Nijang Tetap Menyenangkan Layaknya Belajar di Sekolah

Sumbawa Besar, Gaung NTB – Sudah hampir 4 bulan anak-anak sebagai kelompok rentan tertular Covid 19 harus belajar dari rumah (BDR). Pembelajaran jarak jauh daring maupun luring masih akan berlanjut pada siswa angkatan 2020/2021 sampai pemerintah mengizinkan siswa kembali ke sekolah. Berbagai upaya dilakukan sekolah untuk memotivasi siswa
agar tetap semangat belajar.


Karena kendala jaringan internet dan listrik serta tidak semua orangtua mampu membelikan gawai/hp/laptop dan paket internet pada anaknya untuk BDR. Beberapa sekolah di Sumbawa harus melaksanakan pembelajaran luring.


Meski ditengah keterbatasan sarana dan prasarana, namun pembelajaran luring di SDN Nijang kecamatan Unter Iwes tetap menyenangkan layaknya belajar di sekolah. Kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti dikelas dari awal pembelajaran sampai akhir. Para Guru datang mengajar tatap muka ke rumah siswa menggunakan beragam kombinasi media pembelajaran dan hasil belajar siswa ditempelkan pada papan stereoform. Sebelum kegiatan belajar berlangsung pada esok harinya, guru terlebih
dahulu mensurvei lokasi belajar dirumah siswa pada sore hari
sembari berkordinsi dengan para orang tua.


Agar hasil pembelajaran efektif dan tetap mematuhi protokol kesehatan yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak maka strateginya siswa dibagi kedalam beberapa kelompok belajar. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang siswa sesuai alamat tempat tinggalnya. Jika dibandingkan dengan belajar daring, respon siswa lebih senang belajar kelompok tatap muka karena mereka dapat bertemu dengan teman-teman dan bisa kembali menggunakan baju seragam sekolah kebanggaan mereka.
Orangtua juga tidak khawatir lagi dan tidak kesusahan membantu anaknya mengerjakan tugas-tugas bahkan orangtua secara sukarela menyiapkan cemilan dan minuman selama proses pembelajaran luring.


Sebelum berangkat ke rumah siswa, guru terlebih dahulu mengisi daftar hadir dan mendengarkan beberapa arahan dan nasehat dari kepala sekolah. Salah satu yang mesti diapsesiasi selama BDR ini adalah kerjasama dan dukungan yang terjalin erat antara orangtua dan guru dalam memantau perkembangan peserta didik. Demikian disampaikan kepala sekolah SDN Nijang Masriyanti SPd kepada Gaung NTB rabu (22/7).


Menurutnya, sebelum terjun ke lapangan, guru sudah menyusun perangkat pembelajarannya terlebih dahulu. Disebutkan, pembelajaran luring ini dilakukan 4 kali dalam seminggu dari senin sampai kamis, sedangkan pada hari jum’at dan sabtu para guru akan melakukan evaluasi hasil pembelajaran dan merancang kegiatan pada minggu berikutnya di sekolah.


“Selama 3 bulan kemarin kami laksanakan pembelajaran daring lewat hp dengan media aplikasi untuk memberikan tugas kepada siswa melalui Whatsapp, video pembelajaran, Zoom, google classroom dan lain-lain, akan tetapi tidak efektif karena sekian porsen orangtua siswa tergolong ekonomi ke bawah jadi tidak semua orangtua siswa punya hp dan membeli paket internet cukup menambah beban ekonomi mereka hingga mulai hari senin 13 Juli 2020 minggu kemarin, kami gunakan pembelajaran luring metode
mengunjungi rumah siswa (Home visit)) dan sejauh ini respon siswa maupun orangtua sangat baik” katanya.


Kepala sekolah sembari tersenyum mengakui bahwa pola pembelajaran luring membuat guru jauh lebih kelelahan namun itu semua tidak akan terasa manakala guru tersebut bergerak dengan hati sebagai pahlawan tanpa tanda jasa demi masa depan anak negeri.


Oleh karena itu, Masriyanti berharap semoga siswa tetap semangat belajar, orangtua bisa bekerjasama dan melihat usaha guru dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.


Masih senada, menurut guru kelas V Abdul Azis mengatakan dalam menyusun rencana pembelajaran (RPP) selama BDR, guru menggunakn
silabus K13 dengan memetakan indikator mana dari setiap kompetensi dasar (KD) yang bisa dilaksanakan pada kegiatan BDR. Contohnya kata Abdul Azis, pada pembelajaran hari ini (22/7) sesuai program dan RPP yang di rancang pada tema 1 adalah organ gerak hewan dan manusia. Sebelum memulai pelajaran, guru berliterasi dengan gerakan ditempat dengan alat gerak dalam anggota tubuh.


Guru menghidupkan suasana belajar menggunakan media lingkungan dan media diri (anggota tubuh). Misalnya, tangan dapat berfungsi untuk melempar, mencubit dan menarik tali timba.


“Kebetulan di rumah siswa ada sumur, jadi saya mencontohkan sambil menimbah air sehingga siswa bisa lebih paham dengan fungsi organ gerak” ujarnya.


Selain itu, organ gerak pada hewan bisa digunakan untuk meloncat dan melompat disamping untuk berjalan berpindah tempat. Selanjutnya, siswa menempelkan hasil karyanya dengan post it di papan stereoform menggunakan alat gerak tangan dan kaki. “Dengan kondisi pandemi ini, guru diberikan kesempatan untuk berinovasi dalam merancang pembelajaran agar siswa tetap semangat” seraya mengatakan pembelajaran tatap muka luring ini menambah semangat baru baginya begitupun pada siswa-siswanya bahkan orangtua siswa juga bisa merasakan dan menyadari betapa mulianya tugas seorang guru berharap semoga pandemi segera berlalu dan anak-anak bisa kembali belajar di sekolah. (Gks)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close