KabarPolhukam

Dampak Dan Trauma Pada Anak Korban Kekerasan Seksual di Sumbawa

Sumbawa Besar, Gaung NTB –

Seorang anak perempuan, Mia, bukan nama sebenarnya, tampak bersama teman-temannya bermain rantai kata di ruang tamu sebuah rumah batu di Sumbawa.

Sepintas Mia yang masih duduk di sekolah dasar itu seperti anak sebayanya yang asyik dan bahagia dengan mainannya. Padahal, ia memendam trauma karena menjadi salah satu dari 11 korban kekerasan seksual dan perkosaan oleh TA (28), seorang pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN).


Sejak itu, hari-hari Mia benar-benar berubah karena sulit melupakan bagaimana diperkosa dengan disertai ancaman pembunuhan. Ia bisa tiba-tiba murung dan melamun.


Sebelum diperkosa, awalnya Mia hanya diminta TA mengirimkan foto bugil lewat pesan WhatsApp. Tetapi, Mia kemudian dipaksa TA untuk mengirimkan video bugil sambil “memainkan” bagian dari vaginanya.

“Anak saya sering ketakutan, malu jika keluar rumah. Bagaimana nanti di sekolah, apakah anak saya tidak akan di-bully oleh teman-temannya?” kata Tinung, sebut saja begitu untuk tidak menyebutkan nama asli ibunya Mia, sembari meneteskan air mata, ketika diwawancarai pada minggu pertama Juni 2020.


Kecemasan Tinung akan masa depan Mia adalah ketakutan yang sama dialami para orang tua korban TA lainnya. Dengan mata menerawang, kosong, Tinung meneruskan pertanyaan-pertanyaan bernada berat tentang hari-hari esok anaknya, apakah nanti akan pulih dan kuat menjalani kehidupan. Ia tidak menyangka, selama ini Mia menyimpan rahasia besar atas kasus kekerasan seksual sejak Desember 2019 sampai Februari 2020.


Mia yang juga dipaksa suntik kontrasepsi oleh TA agar tidak hamil, siang itu masih duduk melingkar bersama teman-temannya. Mia membaur dalam permainan rantai kata diselingi dengan menyanyi dan menari saat pendampingan psikoedukasi.


Pelaku kekerasan seksual adalah orang terdekat korban

Hal yang sama dirasakan Ana, juga bukan nama sebenarnya. Anak berusia 7 tahun ini baru saja masuk SD. Ia merasakan dampak mental yang panjang justru dari perbuatan ayah kandungnya sendiri kepada Ana.


Sebelum tidur Ana ketagihan memainkan payudara, dan membelai vaginanya. Itu adalah kebiasaan yang dilakukan sang ayah. Kini Ana tidak bisa tidur jika tidak melakukannya.


Semua itu dikisahkan Mela, sebut saja begitu, ibunya Ana ketika ditemui di sebuah rumah batu di Kecamatan Sumbawa (15/7). Ia sering melihat anaknya tidur mengangkat baju dan memainkan payudaranya sendiri serta kedua kakinya dilebarkan.


“Setiap tidur ayah Ana memegang payudara Ana dan memasukkan satu jari telunjuk ke dalam vaginanya, hingga tertidur lelap,” ujar Mela menirukan pengakuan anaknya.


Pada dasarnya Ana adalah anak yang ceria. Saat wawancara berlangsung Ana sedang asyik dengan pensil dan bukunya. Ia pun tampak tersenyum bahagia, sambil menulis abjad dan mengeja namanya sendiri.

Sepintas tidak ada tanda-tanda bahwa ia korban kekerasan seksual. Namun ketika akan tidur, barulah kelakuan yang tidak biasa akan terlihat.


“Kadang saya harus memukul tangan Ana lalu memintanya tidak lagi melakukan kebiasaan itu. Tapi, namanya anak kecil, Ana tetap tidak bisa mendengar nasehat saya. Ana pun terus mengulangi lagi,” ungkap Mela mencoba menahan emosi yang tengah bekecamuk membayangkan kelak Ana besar dan menyadari punya masa-masa pernah dilecehkan dan mengalami kekerasan seksual oleh ayahnya sendiri.

Seketika Mela menangis dengan dada yang tampak makin menyesak sambil mencoba mengeluarkan apa yang membuatnya selama ini terus memendam penuh amarah. Musababnya, selain kekerasan seksual yang dialami anaknya justru dilakukan oleh sosok yang sangat dekat dari kehidupan Ana, Mela juga enggan melapor dan membuat laporan pengaduan ke polisi.


Ia tidak ingin mantan suaminya dipenjara, sehingga di kemudian hari mesti menghadapi dendam dari mantan suami karena Mela menjebloskannya ke balik jeruji. Ia takut jika sewaktu-waktu diserang saat sedang di jalan dan tidak ada orang. Terlebih lagi, dirinya mengais rezeki berjualan online dan jangan sampai bisnisnya kelak diganggu lelaki yang sudah diceraikannya itu.


Korban mengalami kekerasan berlapis

Mela masih sangat trauma tiap kali melihat mantan suami. Ia menghindar tiap kali mantan suami menjenguk Ana. Kebetulan rumah Mela dan rumah orangtuanya berdekatan. Jadi tiap kali mantan suami menjenguk anaknya dan mengajaknya pergi jalan-jalan, yang dikunjungi adalah rumah orangtuanya.

Meski sudah bercerai, tetapi sampai sebelum lebaran Idul Fitri tahun ini (2020), sambung Mela, Ana masih sering dibawa mantan suaminya untuk beli baju lebaran. Mirisnya, waktu itu Ana tidak dikembalikan kepadanya hingga satu bulan. Ia pun cemas dan mencari keberadaan anaknya, tetapi tidak kunjung ketemu.

Hingga saat mengantar pesanan jualan online miliknya, Mela menemukan Ana sedang bermain di pinggir pantai dengan teman-teman dalam kondisi belum makan dan terkesan tidak terurus.


Setelah itu, lanjut Mela, Ana menceritakan kelakuan bejat sang ayah kepadanya. Bahkan, ia sering ditinggal dan ditelantarkan sang ayah di rumah orang. Sesekali Ana dibawa dan diajak tidur di tempat ayahnya bekerja, dengan jenis pekerjaan dan lingkungan pekerjaan yang tergolong sangat keras buat anak seusia Ana.


Trauma yang dirasakan Mela berlapis-lapis, karena ia sejatinya adalah korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dari mantan suaminya itu. Hingga ia terpaksa pergi ke Arab Saudi selama 2 tahun.

Padahal, ketika itu ia sudah melaporkannya kepada unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sumbawa, namun tidak berproses karena dirinya pergi merantau ke Arab Saudi atas usulan dari Ibunya.


Mela dengan berat hati meninggalkan Ana bersama ibunya. Kini Mela sudah menikah lagi dan suaminya menerima Ana dan menyayangi seperti anaknya sendiri.

Dampak psikologis anak korban kekerasan seksual
Baik Ana yang menjadi korban kekerasan seksual dari ayahnya sendiri maupun Mia dan teman-teman sebayanya yang menjadi korban TA akan menjalani kehidupan bersama traumanya masing-masing.


“Trauma pada anak yang mengalami kekerasan seksual kadang terlihat dari mimik wajah seperti cemas, murung dan sering melamun. Tetapi ada juga anak tampak biasa saja karena trauma baru akan dirasakan 5 sampai 10 tahun ke depan,” demikian disampaikan sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) kabupaten Sumbawa Fatriatul Rahma SPd (19/6).


Untuk itu, Fatriatulrahma mendorong para orang tua jangan sampai terlambat menyadari dampak buruk dan trauma yang dialami anak korban kekerasan seksual.

Disebutkan Fatriatulrahma, masalah kekerasan seksual masih dianggap tabu oleh masyarakat. Akibatnya, pihak korban tidak ingin melapor ke polisi karena tidak ingin menanggung malu. Bahkan, menurutnya, banyak korban yang mendapat ancaman dari pelaku.


Setiap tahun kasus kekerasan seksual pada anak di Sumbawa terus meningkat. Tapi yang diketahui jumlahnya hanya kasus terlapor saja. Ada banyak kasus yang telah terjadi tetapi tidak terlapor sambung Fatriatulrahma.


Kapan negara hadir melindungi para korban?
Sementara itu, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) M. Ikraman, SPt menyampaikan, pada lini pencegahan Sumbawa belum punya program yang begitu kuat yang bisa melibatkan masyarakat secara keseluruhan.

Ketika ada kasus muncul, pemerintah baru melakukan penindakan baik dalam bentuk pendampingan medis, pendampingan hukum, sampai pendampingan psikoedukasi.

Ikraman sangat menyesalkan mininmnya perhatian pada darurat kasus kekerasan seksual di Sumbawa. “Dari segi kebijakan maupun anggaran belum menyentuh akar masalahnya. Baik nanti setelah pandemi Covid-19 maupun sebelumnya, seperti itu saja,” ujar Ikraman.


Tantangan lainnya, kekerasan seksual pada anak di Sumbawa menurutnya juga harus mulai melibatkan pihak-pihak lain untuk melindungi anak seperti di rumah maupun sekolah.


“Sekarang pertanyaannya, kenapa sekolah harus ramah anak? Apa ada sekolah yang tidak ramah anak?” protes Ikraman yang menggambarkan betapa kekerasan seksual terhadap anak bisa terjadi di tempat-tempat yang seharusnya aman dan bisa melindungi anak-anak.

Jadi, sambungnya, ketika ada Undang-Undang Perlindungan Anak, maka semua tempat harus ramah anak. Di ruang-ruang publik maupun tempat-tempat seperti rumah dan WC sekolah, anak-anak harus terlindung dari kekerasan seksual. Jangan ada lagi Ana, Mia dan anak-anak sebayanya yang menjadi korban kekerasan seksual di manapun, termasuk di Sumbawa.

Karena itu, kehadiran negara dalam melindungi anak-anak dan pemulihan terhadap anak korban kekerasan seksual sangat diharapkan. Namun, Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) belum juga disahkan oleh DPR, bahkan dicoret dari daftar program legislasi nasional (prolegnas) prioritas tahun 2020.

Jika payung hukum yang ada tidak berpihak pada korban kekerasan seksual, sementara RUU PKS yang sedianya mampu mengisi hukum yang melindungi dan memulihkan korban terus-menerus ditunda pengesahannya oleh DPR, menunggu berapa banyak lagi anak Indonesia menjadi korban kekerasan seksual? (Gks)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close