Mainan “Serpok” Terancam Punah Termakan Zaman

0
304
loading...
loading...

Sumbawa Barat, Gaung NTB
Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat didominasi oleh aktifitas bermain. Namun, seiring dengan pekembangan zaman dan kemajuan teknologi, permainan tradisional kian punah dengan permainan modern nan canggih.
Salah satunya adalah permaian tembak-tembakan yang disebut dengan maen Serpok. Jika pada masa-masa terdahulu main tembak-tembakan ini menggunakan alat serta bahan dari kearifan lokal di sekeliling, maka pada masa sekarang permainan ini sudah digantikan dengan pistol-pistolan dengan peluru menyerupai asli ataupun permainan tembak menggunakan media computer alias serba digital.
Akan tetapi cukup menarik jika melihat beberapa hari terakhir ini anak-anak Desa Mantar Kecamatan Poto Tano, sedang beratraksi menggandrungi permainan Serpok ini guna menyemarakan Festival Budaya Mantar 2018 belum lama ini.
Terlihat keceriaan dan semangat di wajah anak-anak tanpa memakai baju ini, ketika sedang asyik membuat senjata bernama Serpok. Bahannya pun sangat mudah diperoleh, yaitu hanya menggunakan ranting bambu yang banyak tumbuh di pinggiran sawah maupun di kebun.
Untuk membuatnya pun membutuhkan keahlian karena tidak semua anak memiliki keberanian untuk mengambil ranting bamboo, dan kemampuan menggunakan pisau atau parang.
Hasilnya pun mudah terlihat, anak dengan kreatifitas tinggi serta kebiasaan bermain di alam akan lebih unggul dibandingkan dengan anak-anak yang hanya terbiasa di rumah, atau hanya terbiasa dengan permainan modern.
Kesempatan ini ternyata tidak disia-siakan oleh Ame (8), keahlian dan keterampilannya dalam membuat serpok ini ia manfaatkan untuk bisa mendapatkan tambahan uang jajan.
Ia berujar setiap kali membuat serpok sering kebanjiran order. Setiap satu buah serpok karyanya bisa dihargai Rp 2000, oleh anak lainnya. Bahkan dalam satu hari bisa menjual sampai dengan 5 buah serpok, ini adalah penghasilan yang cukup banyak untuk anak kelas 4 sekolah dasar.
Bentuk permaianan tradisional memang memiliki lebih banyak keunggulan dari sisi pendidikan serta melatih kreatifitas anak. Sebelum bisa memainkan suatu permainan, anak terlebih dahulu dituntut untuk untuk menemukan bahan bahkan membuat alat yang akan digunakan untuk bermain.
Hal ini secara otomatis akan mendorong tumbuhnya ide kreatif dan semangat anak, selain itu kerjasama antar anak sudah mulai ditanamkan lewat pemainan tradisional ini. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh permainan tradisional dimainkan secara berkelompok, tidak seperti permainan modern yang bisa dimainkan secara sendiri atau online dengan dengan pemain yang tidak diketahui tempat dan orangnya.
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa permainan tradisional merupakan warisan nenek moyang yang menjadi bagian tradisi ataupun budaya, dan patut untuk dilestarikan dan permainan ini akan mampu menarik para wisatawan manca negara untuk datang berkunjung ke Desa mantar
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) KSB, Ir IGB Sumbawanto MSi menyebutkan, melalui event Festival Mantar 2018 salah satu upaya pemerintah untuk melestarikan berbagai jenis permainan tradisional yang selama ini di ketahui terancam akibat tersisihkan oleh permainan modern.

loading...

LEAVE A REPLY