Festival Dea Busing 2018 Digelar

0
112
loading...
loading...

Lape, Gaung NTB
Pada awal terbentuknya Kesultanan Sumbawa, Busing merupakan pangkat adat dalam struktur pemerintahan Kesultanan Sumbawa yang memiliki tugas sebagai Panglima Perang Kesultanan. Panglima Perang berada dibawah Menteri Pertahanan dan Keamanan yang disebut Adipati yang dijabat oleh Dea Dipati, sementara jabatan Busing disebut dengan Dea Busing.
Peristiwa konfrontasi politik tahun 1795, antara Kesultanan Sumbawa dengan Dompu, pertahanan Kesultanan yang dijabat Busing ditempatkan di Lape sebagai penjagaan wilayah sektor Timur Kesultanan Sumbawa, dan selanjutnya jabatan Busing untuk Lape disebut Busing Rea. Refleksi peristiwa itulah masyarakat Lape mencoba menggali dan menampilkan kembali dalam bentuk Pawai Alegoris Busing Lape Adat Samawa serta beberapa rangkaian acara Festival Dea Busing 2018.
Bupati Sumbawa, dalam sambutannya yang disampaikan Sekda Kabupaten Sumbawa, Drs H Rasyidi menyatakan bahwa, festival merupakan sarana komunikasi yang penting sebagai media pelestarian budaya.
Festival memiliki tujuan yang berbeda-beda, ada yang bertujuan untuk hiburan dan edukasi, ada yang bertujuan untuk menyatukan berbagai komunitas di dalam masyarakat, ada pula yang bertujuan untuk promosi usaha. Dikatakan, sebagai sebuah sarana komunikasi, maka sudah selayaknya sebuah event festival direncanakan melalui proses perencanaan yang baik.
Lebih jauh disampaikan, masyarakat harus menyadari betapa pentingnya makna kebudayaan, dalam memperkokoh identitas sebagai tau Samawa. Budaya menuntun masyarakat untuk bertingkah laku sesuai dengan adat istiadat, dan menuntutnya jika menyimpang dari norma-norma sosial yang berlaku.
Dijelaskannya Sumbawa sudah mulai dikenal secara luas, dengan digelarnya berbagai event, baik yang berskala nasional maupun internasional. Salah satunya event Sail Indonesia Moyo Tambora 2018 yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Hal tersebut diharapkan mampu membangun landasan moral yang baik bagi masyarakat berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki.
“Perlu kita ingat bahwa dalam kultur budaya tau samawa, sangat kental dengan nilai-nilai keislaman, yaitu “Adat Barenti Ko Sara’, Sara’ Barenti Ko Kitabullah” dan memiliki falsafah “Taket Ko Nene, Kangila Boat Lenge”, sehingga nilai-nilai luhur yang tersirat didalamnya menjadi pedoman dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan masyarakat Sumbawa” pungkasnya.
Sebelumnya Camat Lape Abu Bakar SH. dalam laporannya mengatakan bahwa, Festival Dea Busing 2018 ini diselenggarakan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan dan pemerintahan yang diwariskan oleh Dea Busing yang diimplementasikan dalam konteks kekininan. Dengan kegiatan tersebut, diharapkan budaya Samawa ke depan lebih berjaya dibumi sendiri.
Pembukaan Festival Dea Busing 2018 oleh Sekda Kabupaten Sumbawa ditandai dengan pelepasan Pawai Budaya yang diikuti 1.648 orang dari 22 dusun se-kecamatan Lape, termasuk sekolah, puskesmas serta Polsek Lape dan PGRI Kecamatan Lape. Selain Pawai Budaya, agenda Festival Dea Busing 2018 juga akan menggelar Festival Seni Budaya tanggal 26-27 September di Halaman Kantor Camat Lape, Stand Kuliner tanggal 26-29 September di Halaman Kantor Camat Lape dan Lomba Balap Sampan pada tanggal 27 September yang berlangsung di Pantai Labuhan Terata Desa Labuhan Kuris.

loading...

LEAVE A REPLY