BENDAHARA DESA BERSAKSI, JAYA MAULANA TAK BERKUTIK

0
194
loading...
loading...

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Sudah lima kali persidangan digelar Pengadilan Tipikor Mataram atas kasus dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam pengelolaan, penggunaan dan pemanfaatan dana desa (ADD) Desa Pamanto Kecamatan Empang Sumbawa tahun anggaran 2015/2016 lalu, yang diduga mengalami kerugian negara mencapai sekitar Rp 1,3 Miliar, yang melibatkan terdakwa utama Jaya Maulana (56) mantan Kades Pamanto, dan pada sidang Senin (18/12) kemarin tim Jaksa Penuntut Umum Kejari Sumbawa diwakili Jaksa Fajrin Irwan Nurmansyah SH dan Jaksa Cyrilius Iwan Santosa Rumangkang SH mengajukan tiga orang saksi dua orang bendahara dan Staf Keuangan Desa Pamanto Empang untuk bersaksi, membuat terdakwa dibuat tak berkutik kecuali membenarkan dan mengakui perbuatan yang telah dilakukan.
Untuk membuktikan seluruh unsur pidana yang didakwakan tim Jaksa terhadap terdakwa Jaya Maulana, maka sudah 8 orang saksi yang telah diajukan kedepan persidangan Pengadilan Tipikor Mataram Menariknya, dan bahkan pada sidang Senin kemarin tiga orang saksi yang diajukan tim JPU terdiri dari saksi Sadaruddin Damhuji bendahara Desa tahun 2015, Wahyuni Yukarningsih bendahara desa tahun 2016 dan Nelasiah Febriana Staf Pembantu Keuangan Desa Pamanto Empang memberikan keterangan kesaksiannya terkait dengan pengelolaan, penggunaan dan pemanfaatan dana desa (ADD) tahun anggaran 2015/2016 lalu sesuai dengan apa yang diketahui maupun tupoksi masing-masing secara panjang lebar diuraikan secara rinci, termasuk sejumlah uang yang diambil dan dipakai oleh terdakwa, membuat Jaya Maulana tak berkutik kecuali membenarkan dan mengakui kalau sejumlah uang yang diambil pada bendahara tersebut ada sebagian yang telah dikembalikan dan ada yang tidak dikembalikan.
Seusai sidang, Jaksa Fajrin Irwan Nurmansyah SH kepada Gaung NTB kemarin menyatakan rasa optimismenya kalau sejumlah unsur pidana yang didakwakan kepada terdakwa akan mampu dibuktikan secara sah dan meyakinkan, dengan melihat fakta persidangan dari 8 orang saksi yang telah diajukan kepersidangan telah terungkap dengan jelas perbuatan yang dilakukan terdakwa, apalagi pada sidang lanjutan 27 Desember mendatang, tim Jaksa akan mengajukan paling tidak ada 3 orang saksi lagi terdiri dari pemilik toko alat tulis, pemilik rumah makan dan konsultan ADD akan diajukan kepersidangan untuk bersaksi guna menguatkan sejumlah keterangan saksi lainnya.
Dalam kasus ADD Pamanto Empang ini, terdakwa Jaya Maulana sendiri oleh tim JPU Kejari Sumbawa dikenai dengan ancaman pelanggaran sejumlah pasal pidana berlapis melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 ayat (1) Sub (1)-(b) ayat (2) dan (3) UU No 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, dengan ancaman pidana dan denda yang cukup tinggi.

loading...

LEAVE A REPLY