PEMBANGUNAN GEDUNG HEMODIALISA RSMA “MANGKRAK”

0
201
loading...
loading...

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Dengan telah ditetapkan pelaksanaan dan penerapan pengelolaan serta pelayanan menggunakan sistem Badan Layanan Unit Daerah (BLUD) secara mandiri sejak Januari 2017 lalu, Rumah Sakit H Lalu Manambai Abdulkadir (RSMA) Sumbawa yang merupakan satu-satunya rumah sakit rujukan didaratan Pulau Sumbawa sesuai dengan tekad dan komitmen kedepan dapat meraih dan merubah statusnya menjadikan RSMA sebuah rumah sakit Type-B, maka sejumlah persyaratan yang ditentukan secara bertahap akan terus berupaya dilengkapi dan dipenuhi, baik itu menyangkut soal pembenahan dan peningkatan sarana prasarana dan sejumlah fasiitas penunjang kesehatan lainnya, termasuk didalamnya soal dukungan sumberdaya manusia yang ada.
Salah satu upaya RSMA dibawah kepemimpinan Direkturnya dr H Syamsu Hidayat guna menuju sistem pengelolaan secara mandiri dan peningkatan pelayanan kesehatan kepada warga masyarakat didaratan Pulau Sumbawa ini, maka sejumlah sarana prasarana dan fasilitas penunjang lainnya terus berupaya dibenahi, dimana RSMA Sumbawa dewasa ini telah memiliki sejumlah dokter spesialis dasar yang dipersyaratkan yakni ada 12 orang dokter spesialis meliputi dokter ahli Upgent, Dalam, Anak, Patologi Klinik, Radiologi, Mata, Jantung, Anestesi, Jiwa, Ortopedi dan Emergency serta sejumlah dokter umum lainnya, apalagi adanya dukungan para dokter wajib kerja sarjana (WKS) yang telah ditetapkan lewat Perpres hasil Rakernas kesehatan di Jakarta dengan menempatkan dokter spesialis di RSMA, termasuk usulan penambahan sejumlah alat-alat kesehatan yang dibutuhkan pada tahun 2018 mendatang.
Namun, dari hasil investigasi lapangan yang dilakukan Gaung NTB Sabtu kemarin, terkait dengan adanya upaya peningkatan bidang kesehatan dalam tahun 2017 ini sebuah perusahaan yang bergerak dibidang kesehatan dan sangat menaruh kepedulian terhadap RSMA Sumbawa, yakni PT Menjangan Jakarta telah mengadakan Kerjasama Operasional (KSO) dengan RSMA Sumbawa, dalam bentuk bantuan pembangunan gedung Hemodialisa yang memiliki fasilitas VIP sebanyak 3 – 5 Unit plus bantuan 10 unit mesin peralatan khusus Hemodialisa yang ditaksir menyerap biaya mencapai angka belasan Miliar Rupiah dengan azas manfaat kedepan diharapkan akan dapat dirasakan oleh warga masyarakat didaratan Pulau Sumbawa, termasuk didalamnya nanti akan ada kerjasama pengadaan bahan habis pakai yang dibayar oleh BPJS dengan tenaga khusus akan dilatih di Bandung Jawa Barat, sehingga penanganan hemodialisa seperti sakit ginjal dan cuci darah sudah bisa dilakukan di RSMA Sumbawa dan tidak perlu lagi dibawa ke Mataram atau luar daerah.
Sebelumnya KSO yang sama telah dilakukan PT Menjangan Jakarta dengan RS Ali Sadikin Bandung, RS Karyadi Medan maupun RSU Mataram, dan tahun 2017 ini giliran RSMA Sumbawa mendapatkan bantuan bagi pembangunan gedung Hemodialisa dimaksud, namun sangat disayangkan pembangunan gedung Hemodialisa itu sudah hampir enam bulan lamanya “mangkrak” terhenti pembangunannya tanpa sebab yang jelas, sementara progres fisiknya sendiri baru beberapa persen, dimana dari informasi lapangan yang diperoleh dari salah seorang koodinator tukang yang sengaja didatangkan khusus dari Cirebon Jawa Barat yang minta tidak disebutkan namanya membenarkan kalau proyek yang ditangani itu sempat sekitar enam bulan terhenti, dan baru dua hari ini sekitar 9 orang pekerja bangunan mulai bekerja kembali dengan melakukan pekerjaan dinding bangunan menggunakan herbel bataco ringan yang didatangkan khusus dari Surabaya.
Kegiatan pelaksanaan pembangunan gedung Hemodialisa RSMA Sumbawa sempat terhenti jelas oknum tukang (pekerja) dari PT Menjangan, lebih disebabkan karena faktor perusahaan cukup banyak mengerjakan sejumlah proyek yang sama didaerah lainnya, sehingga baru sekarang dapat dilanjutkan kembali pembangunannya dengan sejumlah stock pasokan material semuanya didatangkan langsung dari Surabaya dan Jakarta, dimana item pekerjaan lanjutan pemasangan dinding dilakukan dan akan dilanjutkan dengan pemasangan daun pintu dan jendela yang terbuat dari aluminium khusus, dengan rencana atap menggunakan konstruksi baja ringan, termasuk pemasangan instalasi jaringan listrik semuanya menjadi tanggung jawab perusahaan, sehingga optimis gedung hemodialisa itu akan dapat dirampungkan dan dituntaskan paling lambat Maret 2018 mendatang, paparnya.
Direktur RSMA Sumbawa dr H Syamsul Hidayat dan sejumlah pejabat berkompeten RSMA lainnya ketika berupaya dilakukan konfirmasi Gaung NTB dikantornya Sabtu (18/11) kemarin, terkait dengan mangkraknya pembangunan gedung hemodialisa tersebut tidak berhasil ditemui dan menurut Stafnya pak Direktur sedang berada di Mataram dan kemungkinan Senin besok baru kembali, sedangkan sejumlah pejabat RSMA lainnya memang untuk hari Sabtu seperti ini jam kerjanya hanya setengah hari saja, bahkan Gaung NTB berupaya mengubungi beberapa kali via telepon seluler tetapi sayang mailbox.

loading...

LEAVE A REPLY