PT Newmont Nusa Tenggara

Pelaku UMKM Kesulitan Bermitra dengan Toko Modern

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Sebelumnya Diskoprindag menyatakan agar toko modern berjaring membangun kemitraan dengan para pelaku UMKM, akan tetapi kemitraan tersebut tidak berlaku bagi para pelaku umkm yang mikro ataupun super mikro. Hal tersebut lantaran, jika ingin membangun kemitraan dengan toko moden, maka modal usaha harus lebih banyak. Karena saat ini para pelaku umkm kesulitan dalam hal permodalan, jadi mereka belum bisa membangun kemitraan dengan took modern berjaring.
Kepala Diskoprindag Kabupaten Sumbawa, Drs H Arif M.Si mengakui hal tersebut, bahkan ia menegaskan bahwa untuk  mengembangkan pelaku usaha mikro membutuhkan modal hingga puluhan milliar untuk memodali seluruh UMKM yang ada sampai dengan pelaku usaha terkecil. Namun, untuk saat ini pihaknya lebih memfokuskan perhatian kepada usaha mikro. “Saya fokus kepada yang mikro sekarang, mikro ini adalah pedagang yang sangat kecil, super mikro bila perlu”, katanya, Sabtu (29/04).
Menurut H Arif, Persoalan pada pelaku usaha mikro  lebih memiliki banyak elemen dan lebih kompleks. mereka berada dalam lingkungan interaksi pasar praktis, yaitu ketika memiliki barang dagangan langsung diperjual belikan, begitu seterusnya. Sehingga, kegiatan seperti ini tidak dapat masuk dalam lingkup retail modern. Kalau mereka ingin bermitra dengan toko modern maka modalnya harus kuat, minimal tidak, ketika mereka memasukkan barang ke toko modern, harus menunggu sekitar satu bulan setelah barang mereka laku. Hal-hal itulah yang membuat mereka tida bisa bermitra dengan toko modern.
Dikatakan, H Arif, karibnya, pelaku usaha super mikro paling banyak berada di pasar tradisional yaitu seperti pedagang pelantaran dan pedagang bakulan. Dalam melakukan kegiatannya, mereka membutuhkan modal segar atau fress kapital. Sehingga, disinilah persoalan bertambah, ketika yang dapat memberikan mereka modal segar dan cepat hanya seorang rentenir karena rentenir hidupnya dipasar-pasar tradional. “Yang dapat memberikan mereka uang dengan cepat itu adalah Rentenir bukan bank. Setengah mati dia dapat pinjaman bank, Sejak kapan pengusaha bakulan, ibu-ibu yang tua-tua itu jualan bisa pinjam uang bank,” ungkapnya.
Diakuinya, memang human kapital atau modal kemampuan manusia yang ada sudah memenuhi. Pada dasarnya mereka sudah sangat mengerti manajemen dan organisasi. Namun, hal tersebut tidak cukup apabila finance kapitalnya sangat lemah. Dengan fakta yang dihadapi sebanyak 87 persen masyarakat Sumbawa yang menggantungkan hidupnya sebagai pelaku UMKM, membutuhkan kebijakan yang khusus bagi mereka. “Kalau mau menyelesaikan masalah di Sumbawa terkait kesenjangan dan kemiskinan selesaikan yang 87 persen tersebut” ujarnya.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply