Warga Keluhkan Hasil Pengerukan Saluran Irigasi Pungka

0
197

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Warga Kompleks Dinas Perikanan Kelurahan Pekat Kabupaten SUmbawa mengeluhkan hasil pengerukan saluran irigasi Pungka oleh gabungan perkumpulan petani pemakai air (GP3A). Pengerukan yang sudah dilakukan tersebut tidak langsung dibuang, akibatnya bau yang tidak sedap langsung menyebar ke pemukiman warga. Tidak hanya menggangu sistem pernafasan, tapi dapat membawa dampak lain yakni ditakutkan sebagai sarang berkembangnya nyamuk demam berdarah.
Warga semakin resah akan dampak penyakit yang kemungkinan besar akan timbul apabila tanah itu tetap dibiarkan begitu saja tanpa diangkut.
Berulang kali warga menanyakan dan memprotes kepada petugas. Namun petugas, hanya bisa menyampaikan alasan bahwa saat ini mereka sedang menunggu kendaraan pengangkut.
Alasan yang sama dari hari ke hari selalu menjadi alibi petugas kepada warga, tetapi nyatanya sampai Minggu (26/2) janji itu hanya omong kosong belaka. “Janji untuk mengangkut tidak pernah direalisasikan, hanya alasan saja tiap melakukan kegiatan pengerukan tanah padahal ada dana yang sudah diberikan pemerintah kepada petugas untuk mengeruk dan mengembalikan kembali fungsi saluran irigasi seperti semula,” ujar salah seorang warga, Ahmad.
Untuk itu, masyarakat mengharapkan agar Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sumbawa atau BWS (Balai Wilayah Sungai) untuk memperhatikan hal yang seringkali dianggap sepeleh oleh petugas di lapangan. “Setiap kali dilakukan pengerukan tanah bau tersebut ditinggalkan begitu saja dan warga selalu bergotong royong membuangnya kembali ke dalam saluran, ini yang membuat kami sangat terganggu dan tidak nyaman,” demikian Ahmad bersama warga lainnya.
Sebelumnya, berdasarkan pantauan Gaung NTB di lapangan, bencana banjir yang melanda Kecamatan Sumbawa beberapa waktu lalu menyebabkan banyaknya jaringan irigasi yang lumpuh dan rusak parah. Bahkan kondisi jaringan irigasi yang berada didekat Bendungan Pungka adalah yang paling parah kerusakannya. Kerusakan itu tentu disebabkan oleh berbagai faktor seperti banyaknya lumpur, lebar saluran irigasi yang terlalu kecil, tanggul jebol, volume air yang terlalu deras. Kedepan, diperlukan kerjasama yang sinergis dari pemerintah dan masyarakat untuk dapat memulihkan kembali fungsi saluran irigasi tersebut seperti semula agar para petani dapat memanfaatkannya dengan optimal serta masyarakat disekitar tidak terganggu.

LEAVE A REPLY