Siapkan Cerdas Cermat, Dinas Dikbud Gelar Worshop ‘Satera Jontal’

0
686
loading...
loading...

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Untuk mempersiapkan Lomba Cerdas Cermat Satera Jontal tingkat SMP, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa menggelar Workshop Satera Jontal yang berlangsung di Hotel Cendrawasih Sumbawa Besar, Jum’at (17/03) lalu.
Kabid Kebudayaan Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa, H Hasanuddin SPd, kepada Gaung NTB menyampaikan bahwa kegiatan workshop digelar untuk mempersiapkan program kompetisi di tingkat SMP, yakni Cerdas Cermat Satera Jonta yang gelar dalam kegiatan Literasi Budaya Lokal yang akan berlangsung setelah ulangan semester kedua di tahun 2017 ini.
Workshop ini ditujukan kata H Ace—sapaan akrab Kabid Kebudayaan, untuk membina guru yang mengajarkan keterampilan atau muatan lokal di setiap SMP se-Kabupaten Sumbawa, yang dilatih oleh 3 orang tutor yakni Mukhti Jauhari guru sekaligus pratisi budaya dan seni, kemudian Saparuddin ahli dalam penulisan aksara Jontal dan juga dirinya.
Sementara untuk peserta Workshop Satera Jontal itu jelas H Ace, diikuti oleh guru perwakilan dari 24 kecamatan ditambah undangan khusus kepada guru-guru SD dan SMP yang potensial di Kota Sumbawa.
H Ace berharap melalui kegiatan workshop tersebut para guru dapat dapat melatih anak-anak murid mereka untuk mempersiapkan mengikuti Cerdas Cermat Satera Jontal.
Untuk tahun-tahun mendatang jelas H Ace, program Satera Jontal ini akan dikembangkan, mungkin akan digelar lomba menulis surat dengan satera jontal, atau Lomba Menulis Naskah Sejarah dan Tradisi lain dalam satera jontal, sehingga anak-anak ataupun masyarakat akan berpacu mengenal satera jontal.
Lebih jauh disampaikan H Ace, bahwa yang paling penting dari workshop tersebut untuk jangka panjang, bahwa satera jontal ini merupakan salah satu dari jenis aksara tradisi yang dimiliki bangsa ini. Kalau tidak salah katanya, ada 9 jenis aksara yang dikenal di negara ini salah satunya satera jontal.
Satera Jontal itu jelas H Ace, bukan hanya dikenal oleh Tau Samawa, tetapi juga di Bugis Makassar yang dikenal dengan ‘Lontara’ serta di Bengkulu yang dikenal dengan ‘Kaganga’. “Kita Tau Samawa sebenarnya harus bangga, karena ratusan tahun yang lalu nenek moyang kita sudah memiliki alat komunikasi visual dalam bentuk Satera Jontal,” jelasnya.
Namun Satera Jontal ini kata pejabat yang juga budayawan ini, sudah lama ditingalkan. Menurutnya, memang pernah ada upaya untuk melestarikan dan diperkenalkan kembali melalui dua kali penerbitan buku di Dinas Dikbud sekitar 10 tahun yang lalu, namun tidak diiring dengan program pemasyarakatan melalui lembaga pendidikan. Sehingga dengan pindahnya Bidang Kebudayaan ke Dinas Pendidikan menjadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, maka upaya pemasyarakatan, pelestarian dan pengembangan kembali Satera Jontal akan menjadi sangat mudah melalui jenjang pendidikan.
Menyinggung aplikasi Satera Jontal dalam teknologi komputerisasi, disampaikan H Ace, bahwa aplikasi Satera Jontal ini sebenarnya sudah lama diprogramkan oleh pemerintah dan sudah diberikan kepada beberapa daerah di Sulawesi Selatan maupun Bengkulu, tetapi Kabupaten Sumbawa belum, karena di Sumbawa belum diperkenalkan Satera Jontal kepada masyarakat, sehingga Sumbawa tidak meminta, karena tidak ada yang mengoperasioalkan.
“Kalau nanti Satra Jontal ini sudah diajarkan di sekolah, dan sebagian besar masyarakat sudah menguasainya dan diterapkan, maka kita akan minta aplikasi tersebut,” katanya.
Disamping itu juga diharapkan pengembangan dan penerapan Satera Jontal kepada masyarakat dan pemerintah seperti pada penamaan jalan, kantor, lembaga dan lain sebagianya. “Itulah goal kita ke depan melalui program pengembangan Satera Jontal ini,” ujarnya.
Termasuk juga kata H Ace, penyempurnaan Satera Jontal ini dengan melengkapi lambang-lambang aksara yang tidak dikenal dalam Satera Jontal seperti Z, F, Q SY, G, H, T, S, dan beberapa lambang aksasara lainnya. tentu hal itu dilakukan katanya melalui Lembaga Adat, atau pemangku kepentingan untuk mengembangkan Satera Jontal ini. “Kita akan kembangkan sesuai dengan perkembangan sistem tata tulis, tentu melalui kajian empiris yang kemudian diseminarkan dan ditetapkan oleh Lembaga Adat Tana Samawa sebagai lembaga yang mendampinig pemerintah dalam sosio kulutural,” demikian H Hasanuddin.

loading...

LEAVE A REPLY