SBSI PT BBN Minta Perusahaan Komit Terhadap Pekerja

0
268

Sumbawa Barat, Gaung NTB
Ketua PK Federasi SBSI PT Bahagia Bangun Nusa (PT BBN), Safrin Syam, akhirnya angat bicara terkait dilema yang dihadapi para pekerja konstruksi Bendungan Bintang Bano di lokasi kerja.
Kepada Gaung NTB, Ia menegaskan masalah yang dihadapi tenaga kerja dengan manajemen perusahaan begitu kompleks. Sehingga pihaknya mengambil langkah dengan mengadukan persoalan ini kepada pemerintah daerah.
Ada beberapa tuntutan yang disampaikan, diantaranya penyesuaian UMK karena perusahaan masih menggunakan UMP, tidak adanya schadule kerja, demikian juga dengan kontrak kerja tidak ada. Termasuk Kesehatan, Keselamatan Kerja (K3) masih sering diabaikan.
Menurut Safrin Syam, kini telah memasuki tahun kedua karyawannya bekerja. Namun, tidak ada etikad baik dari perusahaan untuk mengikuti ketentuan yang berlaku. Perusahaan justru menerapkan aturan mainnya sendiri. “Aturan tertulis yang dibuat perusahaan ketika diminta pun tidak diberikan kepada pekerja,” ujarnya.
Terkait sikap Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), dan manajemen cabang perusahaan PT BBN, yang telah bersurat secara resmi ke kantor pusat di Mataram, atas tuntutan ratusan karyawan, ia berharap segera tuntas.
Ketika persoalan ini tidak juga menemukan solusi kata dia, maka SBSI mewakili pekerja akan tetap berjuang, mengingat ada beberapa insiden kecelakaan kerja yang terjadi di lokasi kerja, yang disebabkan Alat Perlindungan Diri (APD) yang tidak lengkap atau sesuai standar.
Yang ada, pekerja malah membekali diri sendiri bekerja menggunakan sepatu biasa. Bahkan ada yang menggunakan sandal jepit. Semetara lokasi tempat kerja cukup ekstrim, di atas gunung dengan struktur material bebatuan yang sangat cadas. “Sewaktu bekerja kaki para pekerja ini bisa saja terkepit bebatuan atau terkena timpahan batu. Ini yang mungkin tidak dipikirkan oleh manajemen perusahaan,” tandasnya.
Bahkan kasus kecelakaan kerja yang terjadi baru-baru ini adalah terjepitnya tangan salah satu karyawan di claser. Terjadinya malam hari, karena kurangnya lampu penerangan. Safety hanya ada ketika pukul 08.00 – 17.00 Wita. Ketika lembur sudah tidak ada lampu penerangan saat bekerja.
Kasus kecelakaan kerja lainnya, operator naik di alat berat lalu terpeleset jatuh. Setelah mendapat perawatan diketahui pekerja tersebut, menderita luka robek di bagian kuping, disertai beberapa jahitan. Ia menyebutkan tidak ada Alat Perlindungan Diri (APD) yang semestinya di bekali oleh perusahaan kepada pekerja, kemudian pelayanan kerja yang tidak ada.
Ironsnya, tidak ada tekhnis pekerjaan pun, dikerjakan murni semua berdasarkan apa yang diketahui oleh pekerja sendiri, tanpa pembekalan dari pihak perusahaan. “Tuntutan ini sudah beberapa kali kami sampaikan. Tapi hanya jawaban lisan, bahwa perusahaan akan menjamin keselamatan dan kesejahteraan pekerja. Namun fakta dilapangan tidak ada realisasi,” kata Safrin Syam.
Termasuk BPJS ketenaga kerjaan sampai saat ini belum diketahui, sudah atau belum karyawannya didaftarkan. Ketika itu ditanyakan, manajemen pun tidak bisa menunjukkan bukti registrasi kepesertaan BPJS.
Sementara itu, Wakil Ketua PK SBSI PT BBN, Surya Herman, menambahkan perusahaan ini seakan akan menutup mata dengan kondisi yang terjadi saat ini. Status karyawan ada pembedaan pemberlakuan. Ada yang menjabat sebagai Helper. Perusahaan menganggap jabatan ini (Helper) sebagai buruh karyawan lepas. Sementara aturannya kalau tiga bulan berturut turut tidak ada kontrak kerja yang diberikan, secara otomatis karyawan tersebut sudah berstatus sebagai karyawan permanen dan legalitasnya jelas diakui oleh perusahaan. “Tapi kenyataannya sudah ada yang setahun, bahkan ada yang tujuh bulan bekerja ini lah yang tidak ada agrimentnya,” tegas Surya Herman.

LEAVE A REPLY