Ruwaida Zafira, Mahasiswi Berprestasi Butuh Dukungan Pemda Sumbawa

0
292
loading...
loading...

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Pemerintah Kabupaten Sumbawa di bawah kepemimpinan duet Bupati dan Wakil Bupati H Husni Djibril BSc dan Drs H Mahmud Abdullah, patut berbangga memiliki warga yang memiliki segudang prestasi. Salah satunya adalah Ruwaida Zafira, kelahiran Labuhan Sumbawa 15 Juni 1993.
Zafira akrab ia disapa, kini bersiap-siap untuk melanjutkan studi ke ke Tsukuba University di Kota Ibaraki, Jepang, pada akhir Maret atau awal April 2017 mendatang. Zafira akan melanjutkan magisternya dalam hal kompetensi pedagogic pendidikan inklusi yang belum ada di Kabupaten Sumbawa.
Zafira menamatkan studinya di Jurusan PGSD Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 2015 lalu dengan predikat Cum Laude, IPK 3.84. Dari 161 SKS yang ditempuhnya selama 3 tahun lebih, hanya 5 mata kuliah bernilai B.
Kepada sejumlah wartawan, Selasa (21/03), Zafira menjelaskan, studi S2 yang akan dijalani setelah mengikuti seleksi beasiswa Lembaga Pegelola Dana Pendidikan (LPDP) dibawah kerjasama 4 lembaga–Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Agama, Kementrian Keuangan dan Kemristek-Dikti.
Capaian yang diraihnya saat ini dilatari dengan banyak hal bagi sebagian orang mungkin mustahil dapat dilakukan. Selain prestasi akademik yang selalu masuk dalam 3 besar rangking kelas sejak masih duduk di bangku SDN 1 Labuhan Sumbawa, SMPN 1 Labuhan Badas maupun SMAN 2 Sumbawa Besar, daya tolak dari keluarga untuk melanjutkan S-1 PGSDnya di UNESA kala itu menjadi ceritera tersendiri.
Ia menuturkan, sejak masih duduk di bangku SD dia dibesarkan oleh kakek dan neneknya karena kedua orang tuanya bekerja sebagai TKI di Arab Saudi. Kondisi itu tidak membuatnya patah semangat untuk belajar dengan gigih guna mendapatkan prestasi. Buktinya, Zafira pernah dipercaya rekan-rekannya menjadi Ketua OSIS di SMPN 1 Labuhan Badas maupun SMAN 2 Sumbawa.
Dia juga aktif menggeluti kegiatan ekstra kurikuler seperti KIR dan Pramuka semasa masih berstatus siswa di SMPN 1 Labuhan Badas dan SMAN 2 Sumbawa. Kemudian bagaimana dia bisa menjadi wisudawan “the best of the best” di UNESA? Hal dipastikan tidak akan terjadi ketika dia menuruti keinginan keluarganya yang memintanya agar berkuliah di Akbid Anugerah Abadi Sumbawa. Pasalnya, ketika memastikan dirinya lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SMPTN) dengan cara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga, Zafira menyampaikan informasi tersebut kepada keluarganya dan ternyata malah mendapatkan penolakan karena dia lakukan dengan cara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga.
Menurutnya, demi mengejar prestasi dan meraih cita-cita, iapun nekat dengan tetap memilih kuliah di UNESA dan akhirnya meraih predikat Cum Laude seperti saat ini. Selama masih kuliah di UNESA, ia aktif menjadi Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMPS) dan organisasi lainnya yang bersifat sosial. Memang ketika pertama kali berada di Surabaya, Zafira sempat mengalami kebingungan untuk menyesuaikan diri karena di sana lebih dominan menggunakan bahasa Jawa. Untungnya ada dua orang temannya asal Mojokerto, Yuda dan Misbahul Ulum yang mengajarinya berbahasa Jawa. Dia juga pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam program Student Exchange tahun 2015 selama 2 bulan di Rumania dan pernah menjadi pembicara dalam Seminar Internasional di Thailand yang mengangkat tema Kompetensi Pegadogic Guru Sekolah Dasar Inklusif, cerita Zafira.
Cita-cita terbesar Zafira yang hendak dia lakukan ketika menyelesaiakan studi magisternya di negeri Gunung Fujiyama tersebut, yakni mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak terlantar dan anak dari keluarga kurang mampu.
Kini gadis berdarah Arab ini tengah mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangat ke Jepang. Dia berharap agar pemerintah daerah dapat mensupportnya terutama membantunya dalam hal peralatan khususnya perangkat Laptop.

loading...

LEAVE A REPLY