Andi Subandi SPd ; Bangun Desa Dimulai Dengan Membangun Pradaban Manusia

0
214

Brang Rea, Gaung NTB
Pasca dilantik sebagai Kepala Desa Sapugara Bree Kecamatan Brang Rea, Andi Subandi S.Pd, menyatakan komitmen awalnya dalam membangun pemerintahan desa yang bersih menuju desa Islami, membangun kualitas sumber daya manusia di desanya dengan falsafah “Membangun Pradaban Manusia“ merupakan yang harus dilakukan untuk menciptakan desa yang Kondusif, aman, dama dan nyaman. Hancurnya aqidah dan moral akibat tenggelamnya peradaban Islam. “Hancurnya kedaulatan negeri-negeri muslim dan tersisihnya peran umat Islam dari kancah kehidupan dunia menyebabkan dunia menjadi gelap,” ujarnya.
Tugas utama dan pertama Nabi Muhammad SAW, adalah menyempurnakan akhlak manusia yang telah sekian tahun porak-poranda, sebab salah satu makna Tauhid adalah memancarkan sinar pencerahan, menempatkan posisi manusia pada posisi yang proposional, ‘adil dan bermartabat di sisi Tuhannya. Manusia yang bertauhid kata Andy adalah  manusia yang menyadari sepenuhnya hakikat penciptaan dan eksistensinya di dunia. “Masyarakat desanya akan  beradab ketika menyadari sepenuhnya tanggung jawab spiritual dan sosial. Memahami dan menunaikan keadilan terhadap Tuhan, dirinya dan masyarakat sekitarnya. Sehingga, inti sari peradaban Islam sebenarnya adalah Tauhid itu sendiri,” jelasnya.
Dengan demikian, jalan pertama yang ditempuh untuk membangun Desa adalah menempatkan fondasi suatu peradaban yang baik adalah untuk menciptakan manusia-manusia yang beradab. Ketiadaan adab itulah yang menyebabkan hancurnya peradaban manusia baik moral, akhlaq maupun aqidah.
Adab atau etika dalam Islam harus dilandasi oleh Tauhid. Karena itu ketika awal meletakkan dasar-dasar peradaban  di dalam kepemimpinannya, akan tetap melakukan verifikasi keimanan masyarakat desanya. Dalam konteks sekarang, yang mesti dilakukan adalah melakukan penyadaran bertauhid. “Etika tidak dapat dipisahkan dari agama. Semua aktifitas harus dikaitkan dengan norma agama, apapun aktifitas itu, manusia beradab adalah, orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang Haq, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia beradab,” ujar Andi.
Menurut Andi, adab menempati tiga posisi dalam kehidupan manusia. Adab terhadap diri, terhadap manusia dan kepada ilmu pengetahuan. Adab terhadap sendiri bermula ketika seseorang pemimpin mengakui bahwa dirinya terdiri dari dua unsur yaitu akal dan sifat-sifat hewani. Ketika seorang manusia mampu menguasai dan mengontrol sifat hewaninya maka ia telah menempatkan dirinya pada tempat yang semestinya, pada posisi yang benar sebagai pemimpin yang penuh amanah.
Dalam konteks hubungan social kemasyarakatan didalam desa, adab dapat diwujudkan dengan tulus dan rendah hati, kasih sayang, hormat, peduli dan lain-lain kepada orangtua, saudara, anak-anak, tetangga dan pimpinan maka hal itu menunjukkan seseorang mengetahui tempat yang sebenarnya dalam hubungannya dengan mereka.
Sedangkan dalam konteks ilmu pengetahuan adab berarti disiplin intelektual yang mengenal dan mengakui adanya hirarki ilmu berdasarkan kriteria tingkat-tingkat keluhuran dan kemuliaan yang memungkinkannya mengenal dan mengakui, bahwa seseorang yang pengetahuannnya berdasarkan wahyu itu jauh lebih luhur dan mulia daripada mereka yang pengetahuannya berdasrakan akal. “Adab terhadap ilmu pengetahuan akan menghasilkan cara yang tepat dan benar dalam belajar dan penerapan pelbagai bidang sains yang berbeda. Seirama dengan ini, rasa hormat terhadap dengan ilmuan dengan sendirinya merupakan salah satu pengejawantahan langsung dari adab terhadap ilmu pengetahuan. Maka, tujuan akhir dari mempelajari ilmu pengetahuan adalah mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Inilah yang benar-benar manusia beradab, yaitu manusia yang memaknai Tauhid sebagai dasar peradaban. Adab luntur, maka perdaban pun hancur,“ urainya penuh makna.

LEAVE A REPLY