PT Newmont Nusa Tenggara

LAR, Kearipan Lokal yang Harus Dipertahankan

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Keberadaan LAR (tempat pengembalaan ternak) sebagai salah satu kearipan lokal di Kabupaten Sumbawa harus dipertahankan, karena keberadaannya akan sangat menentukan keberlanjutan populasi ternak di daerah ini, hal ini disampaikan Sekretaris Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Kerswan) Kabupaten Sumbawa, Ir Natsir saat ditemui Gaung NTB di kantornya belum lama ini.
Menurut Natsir, kondisi LAR sekarang ini mulai terancam, pasalnya sejumlah LAR yang sebelumnya sudah di SK oleh Bupati Sumbawa sudah beralih fungsi menjadi peruntukan lain.
Dia mengambil contoh LAR Ai Ampuk di Desa Usar Kecamatan Plampang, yang sekarang ini sebagian sudah beralih fungsi sebagai lahan pertanian jagung.
Menurutnya, adanya tumpang tindih LAR Ai Ampuk dengan Lahan Cadangan Transmigrasi harus segera dituntaskan dengan dilakukan pengukuran ulang. Dan keberadaan LAR AI Ampuk ini katanya, harus dipertahankan dan segera diamankan sebagai ladang pengembalaan. “Dengan hilangnya kawasan LAR ini maka jelas akan mengganggu polulasi ternak,” ujarnya.
Oleh karena itu menurut Natsir, salah satu upaya untuk mempertahankan populasi ternak di Kabupaten Sumbawa adalah dengan mempertahankan keberadaan LAR.
Ditambahkan Kasi Pakan dan Kawasan Peternak, Disnak Keswan Kabupaten Sumbawa, Muhammad Lutfi SPt, bahwa informasi dari Bagian Pertanahan Setda Sumbawa, masalah LAR Ai Ampuk sudah rampung. Mereka sudah melakukan pengukuran ulang dan hasilnya luas LAR Ai Ampuk sama dengan SK Bupati Sumbawa yakni seluas 400 hektar.
Menurutnya, LAR Ai Ampuk sudah diambil titik koordinat berdasakan pertunjuk dari masyarakat setempat, luas LAR sesuai SK Bupati 400 hektar. “LAR Ai Ampuk ini tetap akan dipertahankan karena itu merupakan kearifan lokal daerah kita,” ujarnya.
Selain itu Muhammad Lutfi juga menginformasikan bahwa memang keberadaan LAR yang sudah memiliki SK Bupati sebagian sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian, hanya sebagian kecil yang masih berfungsi sebagai padang pengembalaan.
Disampaikan M Lutfi, 7 lokasi LAR yang sudah memiliki SK Bupati meliputi LAR Limung yang berlokasi di Desa Pungkit Kecamatan Moyo Utara dengan luas 1007 hektar sesuai dengan SK Bupati Sumbawa Nomor 650 tahun 2009, kemudian LAR Badi berlokasi di Desa Lopok Kecamatan Lopok dengan luas 340 hektar, sesuai dengan SK Bupati Nomor 120 tahun 2009.
Selanjutnya LAR Kuang Bira di Desa Motong Kecamatan Utan, dengan luas 400 hektar sesuai dengan SK Bupati Nomor 1766 tahun 2010, kemudian LAR Ai Ampuk Desa Usar Kecamatan Plampang, dengan luas 400 hektar dengan SK Bupati Nomor 700 tahun 2000, LAR Lutuk Kele berlokasi di Desa Brang Kolong Kecamatan Plampang dengan luas 200 hektar ditetapkan dengan SK Bupati Nomor 830 tahun 2000.
Selain itu juga ada LA Tanak Dewa berlokasi di Maronge Kecamatan Maronge dengan luas 400 hektar sesuai dengan SK Bupati Nomor 832 tahun 2000 dan LAR Gili Rakit berlokasi di Desa Labu Jontal Kecamatan Tarano, ditetapkan dengan SK Bupati nomor 1250 tahun 2000.
Menurut Lutfi, dari seluruh kawasan LAR tersebut sebagian besar sudah beralih fungsi, sementara yang masih tersisa sesuai fungsinya hanya beberapa kawasan LAL saja seperti LAR Badai, LAR Gili Rakit dan sebagaian LAR Ai Ampuk. “LAR Ai Ampuk sebagian sudah menjadi lahan jagung, sebagian masih dimanfaatkan sebagai padang pengembalaan ternak” demikian M Lutfi.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply