PT Newmont Nusa Tenggara

Antisipasi Pergeseran Budaya, English Club Bentengi Pelajar Kertasari

Sumbawa Barat, Gaung NTB
Desa Kertasari Kecamatan Taliwang, telah menjadi salah satu destinasi wisata. Itu terlihat dengan kian meningkatnya wisatawan mancanegara yang berkunjung ke sana setiap minggunya.
Hadirnya wisatawan ini bukannya tanpa alasan. Ada obyek pantai berpasir putih disertai keindahannya, sehingga tak heran perlahan namun pasti Desa Kertasari, sebagai salah satu daerah penghasil tanaman rumput laut di KSB, kini mulai disasar para penjelajah wisata dari berbagai negara.
Namun hadirnya turis ini bagi masyarakat lokal ternyata ada plus minus nya. Plusnya tentu memberi dampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Sedangkan untuk minusnya, tentu berdampak terhadap kekhawatiran atas pergeseran nilai-nilai kebudayaan dan sejenisnya.
Terkait hal itu, Koordinator Engish Club Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Andi Irma, menegaskan telah merangkul kurang lebih 60 pelajar yang ada di Desa Kertasari, seiring desa tersebut telah menjadi salah satu destinasi wisata.
Pihaknya kata dia, mencoba melatih pelajar mulai dari tingkat dasar untuk belajar Bahasa Inggris, agar bisa berkomunikasi dengan warga asing. “Namanya juga orang asing, tentu prilaku dan kebiasaannya bermacam macam, apakah itu positif ataupun negatif bentuknya. Dengan bahasa komunikasi yang telah dikuasai, apapun gerak-geriknya orang asing dengan mudah si anak bisa membedakan,” kata Andi Irma.
Diakui, tingkat kunjungan wisatawan asing ke Desa Kertasari, saat ini menunjukkan peningkatan. Tentu ada prilaku yang berbeda dari biasanya, khususnya penampilan atau cara berpakaian para wisman.
Maka di English Club ini, anak-anak diberikan pembinaan untuk diarahkan tidak meniru. “Karena kita punya budaya dan adat ketimuran, dalam hal berprilaku dan berpakaian pun dalam hal bergaul harus terkontrol. Kita tidak ingin kunjungan wisman ke destinasi wisata Kertasari ini, menimbulkan efek pergeseran budaya local. Ini yang tidak boleh terjadi,” terangnya.
Selain itu, berangkat juga dari kasus pelecehan seksual yang pernah terjadi di Jakarta Internasional School (JIS), beberapa tahun silam ramai diberita nasional, pelakunya juga dari warga asing terhadap pelajar. Ini yang dikhawatirkan, perlu diantisipasi tentu harus di awali dengan penguasaan bahasa sebagai wadah komunikasi dan interaksi sosial, dengan demikian nantinya anak anak bisa memproteksi diri terhadap setiap gelagat yang mencurigakan.
Selain membentengi anak-anak atas keberadaan para wisman sambungnya, kegiatan ini juga bertujuan membina dan mengarahkan generasi muda untuk melaksanakan kegiatan positif.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply