Pemuda Muslim Sumbawa Gelar Aksi Bela Ulama 311

0
208
loading...
loading...

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Sejumlah Ormas Islam yang tergabung dalam Koalisi Pemuda Muslim Sumbawa menggelar aksi Bela Ulama 311, di depan Mapolres Sumbawa dan Kantor Bupati Sumbawa, Selasa (31/01). Awalnya pendemo melakukan konsentrasi di samping Masjid Agung Nurul Huda Sumbawa, kemudian berjalan kaki menuju Polres dan Kantor Bupati Sumbawa sambil berorasi di sepanjang ruas jalan dalam Kota Sumbawa.
Koordinator umum aksi bela ulama, Andi Rusni SE dalam orasainya mengatakan, kondisi yang ada saat ini di Indonesia, dimana telah terjadi provokasi yang mengkriminalisasi dan mengambinghitamkan Islam dan Ulama dengan cara menghancurkan Islam. Terhadap adanya kelompok yang melakukan aksi menolak kehadiran ulama di beberapa daerah termasuk di Sumbawa, itu adalah salah besar, mengingat kehadiran Habib Rizieq Shihab, Ustat Bachtiar Natzir, KH Ma’ruf Amin dan kawan-kawan adalah pelita yang menerangi semangat dalam kebangkitan Umat Islam,.
Andi Rusni memaparkan bahwa ketakutan terhadap Islam telah menerpa dunia termasuk Indonesia. Sepertinya sejarah tahun 1960-an kembali terulang, dimana para ulama dikriminalisasi hanya karena Islam dianggap sebagai “tembok penghalang” kebangkitan sebuah paham yang bertentangan dengan Dasar Negara Indonesia (Pancasila). Membenturkan islam dengan falsafah lainnya selain Pancasila berarti sama dengan membenturkan peradaban yang tidak mungkin mereka lakukan.
Mereka adalah sekelompok orang yang membenci aqidah islam yang haq dan hakiki. Faham yang mereka anut yakni komunisme dan syiah, menghancurkan islam pun dilakukan dengan menghancurkan penganutnya, ajarannya, pemikirannya, dan simbol – simbol agama islam, serta mengkriminalisasi para ulama yang notabene adalah pewaris para nabi.
Andis—sapaan akrabnya menilai bahwa upaya yang mereka lakukan dengan cara menebar fitnah dan propaganda, menuding bahwa gerakan ulama dan umat Islam lewat aksi bela Islam I (411) dan aksi bela islam II (212) merupakan upaya penggulingan (Makar) terhadap pemerintah, uapay menggantikan pancasila dengan falsafat Islam. Padahal sebenarnya hal tersebut merupakan upaya mereka untuk mengalihkan issue dari gerakan terselubung dan taktik busuk, dengan berusaha menghidupkan kembali bahaya laten komunis melalui antek – antek PKI dan penganut syiah yang sekarang telah menjamur di berbagai daerah di indonesia. “Islam sebagai sebuah agama dan Pancasila sebagai dasar negara adalah sebuah senyawa penyatuan kesadaran bangsa dan negara yang disebut NKRI, tegas Andis.
Ia mengajak kepada seluruh masyarakat luas untuk melihat secara bersama – sama bahwa ada beberapa kelompok yang menolak kehadiran para ulama di berbagai daerah, termasuk di sumbawa. Padahal bagi masyarakat banyak, kehadiran Habieb Muhammad Rizieq Shihab, Ust Bachtiar Natsir Lc, KH. Ma’ruf Amin, dan yang lainnya adalah dambaan dan harapan, sebab ulama adalah panutan, tauladan, dan pembawa berita gembira. Kehadiran para ulama menjadi pelita yang akan menerangi jalan menuju semangat kebangkitan umat Islam. 
Ia menyinggung adanya segelintir orang yanag mengatasnamakan masyarakat sumbawa dan menolak kehadiran ulama di sumbawa, hanyalah orang – orang bayaran yang keimanannya lemah dan bermental rusak, hanya akan memperkeruh suasana, dan “mungkin” atau diduga antek komunis. alasanpun liar, soal bendera merah putih yang bertuliskan Lailahaillallah. Padahal Tau Samawa sangat menjunjung tinggi falsafah adat Barenti Ko Syara, Syara Barenti Ko Kitabullah. “Tau Samawa egaliter, terbuka dan menghor-mati para tamu, tentu hal tersebut sangat bertentangan apabila menolak ulama. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan umat Islam Sumbawa yang kondusif, aman, dan damai. “Tidak cukup sampai disitu, pergerakan terbesar bergeser kepada penolakan kehadiran tokoh Islam dunia yakni Raja Salman (the king of saudi arabia) yang berencana melakukan kunjungan ke Indonesia, dengan dalih yang irrasional atau tidak masuk akal”, tukas Andis.
Menyikapi berbagai kondisi tersebut, sehingga Para Pemuda Muslim Sumbawa menyatakan sikap dengan tegas, bahwa mengakui Al-Habib Muhammad Rizeq Bin Husein Shihab adalah imam besar umat Islam Indonesia. Bahwa setiap jengkal tanah Sumbawa menerima kehadiran ulama dan menyambut para ulama, mendukung penuh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Berharap seraya mengucapkan siap membela Islam dan ulama serta NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Usai berorasi panjang lebar serta membacakan pernyataan sikap, kelompok aksi menyerahkan tuntutannya kepada pihak Kepolisian yang diterima oleh Kabag Ops, Kompol Yusuf Tauziri SIK. Begitu juga di kantor pemerintahan, pernyataan sikap diserahkan Andi Rusni yang diterima oleh Wakil Bupati Sumbawa, Drs H Mahmud Abdullah dengan penuh rasa haru dan keakraban. Selanjutnya kelompok aksi kembali ke tempat semula di Masjid Agung Nurul Huda Sumbawa dan membubarkan diri secara tertib.

loading...

LEAVE A REPLY