PT Newmont Nusa Tenggara

Pegawai Dimutasi, Anak Tak Terurus

Jereweh, Gaung NTB
Kebijakan Pemda KSB belum lama ini dengan melakukan mutasi besar-besaran baik terhadap ASN maupun PTT, menjadi topik hangat dibicarakan kalangan public. Betapa tidak sistem mutasi yang diterapkan kali ini tidak mengedepankan unsur semestinya, yakni berdasarkan kebutuhan organisasi, dampaknya banyak yang menyayangkan keputusan Pemda terhadap banyaknya PTT yang terkena mutasi bukan berdasarkan kebutuhan melainkan atas dasar kepentingan semata.
Dampak dari mutasi tersebut belakangan menimbulkan permasalahan, salah satu pegawai Tata Usaha di sebuah Sekolah Dasar. Adi nama pegawai yang menjadi sorotan mata masyarakat Desa Dasan Anyar.
Adi dipindahkan disalah satu SKPD lingkup Pemda KSB, atas keputusan di mutasi ke tempat tugas yang baru dan Adi pun terpaksa harus meninggalkan 4 orang anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP, sedangkan Adi berstatus sebagai single parrent (duda).
Sepeninggalan istri tercinta, Adi menjadi tulang punggung dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya seorang diri. Melihat perjuangan Adi seorang diri tentu saja menjadi sorotan para tetangga dengan keterbatasan dari kondisi tubuh dan pendengaran tidak normal seperti halnya orang pada umumnya.
Sehingga tidak sedikit Publik, ketika mendengar kisah Adi langsung menyayangkan sikap Pemda KSB, yang terkesan tidak mencerminkan sikap manusiawi. Banyak masyarakat menyangkan mutasi atas dirinya. Ia harus mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga sendiri. Sehari –hari sebelum berangkat bekerja Adi harus mengurus persiapan anak anaknya untuk berangkat sekolah. Meski tergolong menyulitkan Ia tetap  semangat tidak pantang menyerah.
Perjalanan menuju tempat ia bekerja di lalui dengan cara menumpang pada sahabat dan kerabat yang melintas menuju arah Kota Taliwang sebagai pusat pemerintahan. Karena Ia tidak dapat mengunakan kendaraan sepeda motor hanya Sepeda yang menjadi teman perjalanannya. Sebelumnya Ia mengunakan Sepeda untuk bekerja, sekitar 18 kilo meter harus ia tempuh dengan mengayuh sepeda hingga mengantarkannya ketempat di mana ia bekerja.
Keperihatinan ini mengundang reaksi Kepala Desa Dasan Anyar, Muhammad Ikhsan yang sangat menyayangkan kondisi tersebut. “Kami dari pemerintahan desa sangat menyesalkan terhadap mutasi yang di lakukan Pemda KSB terhadap Adi dengan status anak-anaknya yatim. Keperihatinan kami ini bukan tanpa sebab karena anak-anaknya tidak ada yang mengurusi saat ia beranjak kerja dan pulang hingga sore hari,” keluhnya.
“Jangankan untuk makan sehari-hari, untuk anaknya bersekolah pun masih kurang apalagi biaya ongkos pulang pergi dari Taliwang ke Dasan cukup tinggi. Kami dari pemerintah desa berharap kepada Pemerintah Daerah agar dapat meninjau kembali atas mutasi saudara Adi agar anak-anaknya tidak menjadi korban. Yang jelas factor psikologis anak akan tergangu oleh ketidak hadiran ayah dalam membangun jati diri anak dan waktu malam hari mungkinkah ia biasa lebih aktif memberikan semangat karena terlawan oleh lelah. Karena kebiasaan adi ada di tengah-tengah anak dan kini anak-naknya harus menunggu sampai Ia pulang kerja,” sambungnya.
Prihatin atas apa yang dialami oleh Adi, kembali ditanggapi Anggota DPRD KSB, Mustakim Patawari LM, STP, mengaku prihatin dan menyayangkan serta menilai mutasi tersebut mencerminkan tidak adanya rasa pri kemanusiaan dan keadilan. Semestinya mutasi pegawai ini harus mempertimbangkan aspek ekonomi, psikologis dan kemanusiaannya.
Atas dasar itulah Mustakim akan mengusulkan Hak Interpelasi kepada DPRD KSB atas kebiijakan pemda KSB terbilang tidak ada pengkajian dan analisa mendalam, bahkan pihaknya pun akan mengusulkan kepada pimpinan DPRD KSB untuk membuka Posko Pengaduan Mutasi Pegawai baik PNS maupun PTT, karena Ia beranggapan kebijakan pemda KSB rezim ini dianggap sangat berlebihan.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply