FKIP UNSA GELAR SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN

0
363
loading...
loading...

Sumbawa Besar, GAUNG NTB

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Samawa (UNSA), sukses gelar seminar nasional dengan tema Revitalisasi Budaya Lokal dalam Menghadapi Pendidikan di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang berlangsung di Auditorium UNSA, Sabtu (26/11).
Kegiatan tersebut digelar untuk mengangkat unsur-unsur lokal dalam menyelesaikan persoalan global.
Semintar tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa, Rektor UNSA, Dosen UNSA, serta sejumlah dosen dari universitas lain dengan narasumber Prof. Suyanto, Ph.D, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta, kemudian Prof. Dr. Mahsun, M.S Guru Besar Universitas Mataram, selain itu juga Drs. Muh. Suruji Kepala Dinas Dikpora NTB serta Suharli M.Pd Dekan FKIP UNSA Sumbawa Besar.
Diskusi berlangsung penuh dinamika membuat peserta seminar sangat puas menerima ilmu tentang ini.
Rektor UNSA, Prof.Dr.Syaifuddin Iskandar, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi positif kepada FKIP yang telah menyelenggarakan kegiatan ini.
“Semoga seminar ini bisa menjadi agenda rutin kita, saya harapkan juga setelah ini fakultas lain dapat mengikuti jejak dari FKIP,” harapnya.
Indonesia Bagian Timur menurut Prof Ude—sapaan akrab Rektor Unsa, sebenarnya belum siap menghadapi MEA, banyak hal yang harus disiapkan terutama manusianya, skill, kompetensi.
“Kalau kita tidak siap maka kita akan jadi penonton, orang datang dari luar buka lapangan kerja disini, kita tuan rumah gak dapat apa-apa” jelasnya.
Salah satu upaya untuk memperkuat diri menghadapi MEA katanya, seperti mengadakan seminar nasional ini yang membahas tentang budaya-budaya lokal yang menyebabkan banyak dan memperkuat kualitas diri dan motiviasi.
Di tempat yang sama Kepala Dinas Dikpora NTB, Drs. Muh. Suruji, menyampaikan bahwa posisi Dinas Dikpora NTB terkait dengan tema revitalisasi budaya lokal dalam menghadapi MEA, ada 3 hal yang harus dipahami bersama yakni budaya lokal, pendidikan, dan MEA.
Untuk diketahui jelas Muh. Suruji, Sejak manusia lahir sampai meninggal akan selalu tersentuh dengan budaya.
Di NTB jelasnya, memiliki 3 budaya lokal pertama budaya Sasak 52 persen penduduk NTB, kedua budaya Mbojo itu kurang lebih 17 persen dari penduduk NTB dan Samawa 12 persen dari penduduk NTB.
Budaya Samawa jelasnya, telah memenuhi karakteristik menjadi budaya yang cukup maju terbukti dengan adanya budaya yang baik adalah budaya yang mampu membuat masyarakatnya menjadi sejahtera. Kemudian mampu menimalisisr konflik yang ada di masyarakat, mampu membuat warga menganut budaya itu menjadi lebih maju

Yang perlu direvitalisasi budaya itu menurut Muh. Suruji, menyangkut kesenian, tatanan hidup, hukum, pertanian, pendidikan dan lain sebagainya. Oleh karena itu masyarakat harus memilih dan memilah bagian mana yang harus berperan dalam merevitalisasi.
“Jika menyangkut pendidikan maka FKIP lah yang pas, jika Lertanian Fakultas Pertanian yang merevitalisasi, jika itu menyangkut kebudayaan Dinas Kebudayaan harus berperan,” paparnya.
Terkait dengan adanya perubahan nomenklatur dari Dikpora menjadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, menurut Muh. Suruji, khusus menyangkut masalah kebudayaan yang ada di Sumbawa diharapkan agar dilakukan inventarisasi kebutuhan-kebutuhan apa yang diperlukan, mulai dari nama kebudayaannya, alat yang dibutuhkan, pakaian yang dibutuhkan, karena pihaknya berjanji akan mengalokasikan anggarkan untuk kegiatan tersebut. “Kita akan sampaikan peralatan itu ke sekolah,” ujarnya.
Lebih jauh dijelaskannya, bahwa revitalisasi yang dimaksud adalah memperkuat budaya yang ada kemudian hasil penguatan ini akan dikembangkan di sekolah-sekolah dan Universitas.
“Sumber daya manusia kita, siap menghadapi MEA yang kita khawatirkan ini” harapnya
Sementara itu Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Suyanto,Ph.D menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan saat ini berkembang setiap harinya, kualitas SDM menjadi hal terpenting untuk menghadapi MEA.
“Suatu bangsa dikatakan unggul ketika adanya inovasi, teknologi dan netwoking dan Suatu negara dikatakan berkembang tidak hanya diukur dari kekayaan alam tetapi dilihat dari virtualnya” papaprnya.
Dan ditempat yang sama Guru Besar Universitas Mataram, Prof. Dr. Mahsun, M.S menjelaskan MEA bisa dikatakan persaingan global. Yang terpenting jelas Prof Mahsun, adalah bagaimana memenangkan persaingan itu. Dan untuk memenangkan persaingan hanya negara bangsa yang memiliki identitas yang jelas. Dalam konteks jati diri inilah budaya lokal dimaknai.
Dipaparkannya, bahwa budaya bahasa di lihat dari konstruksi Sumpah Pemuda, bahasa menjadi identitas, bahasa menjadi penting karena bahasa Indonesia menyatukan masyarakat seluruh Indonesia. “Betapa besar mujizat dari Bahasa Indonesia, materi muatan lokal kata pengantarnya mengunakan Bahasa Indonesia, dan begitu dengan materi-materi yang lainnya,” ujarnya
Sebagai pemateri terakhir di kegiatan seminar itu, Dekan FKIP UNSA, Suharli M.Pd menjelaskan bicara integrasi ekonomi global, maka bagaimana infrastruktur lintas budaya akan terjadi tanpa batas. Menurutnya pasar akan terfokus pada pasar tunggal yaitu MEA, ketika itu terjadi maka jasa, barang, tenaga kerja akan selalu berinteraksi dengan cepat, kemudian akan timbul interaksi antar global sehingga di dalam tempat kerja juga akan ada tempat kerja global.
Dia mencontohkan perusahaan multinasional itu sudah ke tingkat global, kondisi ini harus di topang dengan kecerdasan budaya artinya kemampuan individu di dalam berfungsi secara efektif, hal yang harus di bangun yaitu dengan mampu bekerjasma walaupun perbedaan budaya dan meningkat kecerdasan budaya.
Kecerdasan budaya jelasnya, kemampuan individu untuk mampu bekerja sama dalam perbedaan budaya dan pemahaman tentang budaya termaksud juga kemampuan mereka untuk bisa berkerjasama.
Indikator kecerdasan budaya paparnya, dilihat dari mental kognitif kecerdasan budaya yang lebih menekankan pada bagaimana individu merasakan ada perbedaan dengan yang lain, timbul kesadaran bahwa berbeda dengan yang lain.
Kemudian dijelaskan, Motivasi budaya, lebih menekankan kepada ketertarikan bagaimana ketertarikan rasa percaya diri dan merasa yakin mampu berinteraksi dengan orang lain dan yang selanjutnya perilaku budaya berkaitan dengan bagaimana seorang mampu beradaptasi secara verbal dan non verbal ketika berinteraksi dengan orang dari berbeda budaya.
“Ini akan terjadi terutama di Indonesia yang multibudaya, apalagi di tambah dengan interaksi lintas negara meghadapi MEA ini akan semakin konflik karena globalisasi buka saja terjadi di tingkat nasional tetapi juga akan sampai ke tingkat local,” paparnya.
Yang harus dilakukan menurut Suharli, yakni adanya lokal jenius yang disebutkan adalah bagimana sebuah budaya mampu bertahan, mampu menyerap, mampu mengolah semua budaya dari luar sesuai dengan kebutuhannya.
“Sumbawa ini dikatakan sebagai daerah transimigran, jadi banyak penduduk yang datang ke Sumbawa dan menjadi bagian dari masyarakat Sumbawa, sehihgga perlu dibangun kecerdasan budayanya, supaya tidak lagi identitas lokal dengan masing wilayah itu muncul justru akan menjadi pertentangan, konflik satu dengan yang lain sehingga haruslah dibangun kecerdasan budaya pada masyarakat yang ada di Sumbawa khususnya dan umumnya Indonesia,” demikian Suharli.

loading...

LEAVE A REPLY