PT Newmont Nusa Tenggara

Sambut Pilgub NTB 2018 KPU Sumbawa Kaji Strategi Tingkatkan Partisipasi Masyarakat

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumbawa, secara inten terus melakukan sosialisasi dan pendidikan politik kepada masyarakat dalam setiap kesempatan yang dilakukan melalui berbagai metode, dengan harapan untuk meningkatkan partisipasi pemilih sekaligus untuk menciptakan pemilih yang cerdas.
Sebagaimana yang berlangsung Kamis (22/12) kemarin, KPU Kabupaten Sumbawa kembali melakukan hal yang sama melalui kegiatan seminar dengan tema Peningkatan Partisipasi Masyarakat Menyongsong Pemilihan Gubernur NTB Tahun 2018 yang berlangsung di Wisma Daerah Sumbawa.
Ketua KPU Kabupaten Sumbawa, Syukri Rahmat SAg, dalam sambutannya menyampaikan bahwa KPU Sumbawa sepanjang tahun 2016 terus intens mengadakan sosialisasi dengan masyarakat dari berbagai macam kalangan diantaranya mengadakan sosialisasi dengan komunitas sepeda, motor dan musik dan lain sebagainya.
Menariknya jelas Syukri, dalam beberapa kali kegiatan sosialisasi yang digelar, ada beberapa kalangan masyarakat meminta kepada KPU Sumbawa untuk mencantumkan kolom Golput di dalam kertas suara. “Ini merupakan tantangan buat kita semua termasuk pemerintah dalam penyelenggaraan Pemilu, hal inilah yang perlu kita diskusikan bersama–sama,” ujarnya.
Syukri, berharap melalui seminar tersebut, dapat melahirkan strategi penyelesaian yang mungkin terjadi kedepannya dalam menghadapi proses pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2018 termasuk Pileg 2019 dan Pilkada 2021 yang akan datang.
Sementara itu Bupati Sumbawa yang diwakili oleh Sekda Drs H Rasyidi dalam sambutannya menyampaikan bahwa partisipasi pemilih dalam Pemilu, menggambarkan fluktuasi masyarakat pemilih untuk menentukan jalannya demokrasi.
Menyongsong Pilkada Gubernur NTB 2018, menurut H Rasyidi, KPU Sumbawa masih memiliki kesempatan sekitar 1 tahun ke depan untuk melakukan sosialisasi.
Berbicara strategi peningkatan partisipasi menurut H Rasyidi, tentu berbicara tentang seni dan inovasi menyakinkan pemilih. Oleh karena itu katanya, beberapa strategi yang patut diupayakan bersama antara lain memanfaatkan media, baik media cetak, media elektonik maupun media sosial untuk mensosialisasikan Pilkada Gubernur 2018.
Sosialiasi tatap muka pada kelompok atau komunitas tertentu katanya juga harus terus tetap ditingkatkan.
“Meningkatkan partisipasi masyarakat pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur NTB 2018, diperlukan strategi penyebarluasan informasi menjadi penting untuk digalang bersama, tentunya juga sambil menunggu selesainya pembahasan RUU pemilu dengan segala aturan turunanya,” kata H Rasyidi.
Selanjutnya pada sesi penyampaikan materi seminar, dengan dipandu Ketua Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat, Aryati SPdI selaku moderator sejumlah pemateri menyampaikan konsep dan ide terkait dengan upaya serta strategi meningkatkan partisipasi masyarakat pada Pilkada Gubernur NTB tahun 2018.
Seperti disampaikan Sambirang Ahmadi SAg MSi yang lebih banyak mengupas tentang tipologi dan karakter pemilih. Menurut Sambirang yang juga politis PKS itu, bahwa agar sosialisasi politik berjalan efektif, maka cara dan konten sosialisasi harus disesuaikan dengan karakter pemilih.
Dijelaskannya, bahwa secara sosiologis, karakter pemilih identik dengan sikap atau perilaku pemilih dalam merespon kegiatan elektoral yaitu kegiatan yang berhubungan dengan pemilu/pilkada. Menurutnya, kegiatan elektoral bisa terwujud dalam bentuk pemberian hak suara, kontribusi dalam aktivitas kampanye, mengumpulkan dukungan untuk kandidat, atau lainnya yang dirancang untuk mempengaruhi hasil dari proses electoral.
Dalam merespon kegiatan sosialisasi politik, jelas Sambirang, sikap dan perilaku pemilih cenderung beragam, ada yang antusias, aktif, bahkan proaktif memberikan dan memobiliasi dukungan. Ada pua yang diam, tapi tetap mengamati dinamika isu dan gerakan politik calon atau parpol, Ada juga yang “acuh tak acuh” atau tak peduli sama sekali dengan dinamika politik. “Inilah gambaran karakter pemilih yang ada sekarang ini,” ujarnya.
Sementara itu, Fahrunnisah Sos MSi, aktivis perempuan dari Sumbawa Center dalam pemaparannya menyampaikan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih, diantaranya, sikap apatis masyarakat yakni kecenderungan masyarakat yang tidak mau tahu dengan adanya Pilkada, kemudian kepercayaan masyarakat terhadap Pilkada itu sendiri, bahwa Pilkada tidak memberikan pengaruh apapun terhadap perubahan kehidupan pemilih ketika mereka memilih ataupun tidak memilih.
Selain itu akses informasi juga mempengaruhi, karena ternyata masih ada masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya karena tidak mendapatkan informasi terkait dengan kegiatan Pilkada serta faktor lainya seperti kurangnya sosialisasi, data pemilih tidak valid, karena politik uang, termasuk juga persepsi masyarakat terkait dengan hak dan kewajiban dalam memilih.
Sementara itu Ardiansyah SIp MSI, pembicara dari kalangan akademisi, yang mengupas tentang Tantangan Pemilih Dalam Menyikapi Nepotisme Elektoral, menyimpulkan bahwa bentuk nepotisme baru berupa politik kekerabatan, hal ini sedikit banyak membajak demokrasi ke dalam pola-pola yang akhirnya cenderung destruktif.
Kekerabatan jelasnya, bekerja melalui nalar “kekeluargaan” dalam mengelola Negara, Hasilnya konspirasi genetik menembus fungsi-fungsi kelembagaan negara baik di ranah intra-eksekutif, intra-legislatif, maupun inter eksekutif dan legislatif. Akibatnya jelas Dosen Fisipol Unsa itu, pemeliharaan akses material negara secara koruptif oleh struktur pemerintahan dinastik akhirnya gagal mendistribusikan kesejahteraan bagi publik.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply