PT PAMA (SJR) Dinilai Gagal Lakukan Pemberdayaan

0
1003

Sumbawa Besar, Gaung NTB
PT Persada Nusantara (PT PAMA) atau yang lebih dikenal dengan sebutan SJR dinilai oleh masyarakat di 3 Kecamatan (Moyo Hulu, Lantung dan Ropang) gagal dalam melakukan pemberdayaan kemasyarakatan. Pasalnya proses perekrutan tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan tersebut terkesan lebih eksklusif, bahkan cenderung merekrut tenaga kerja dari luar daerah Sumbawa. Pendekatan kemasyarakatan yang dilakukan oleh perusahaan hanya sebatas sosialisasi dan sosialisasi itupun menuai penolakan dari masyarakat bahkan dalam sosialisasi sempat terjadi keributan.
Salah satu tokoh Kaukus Muda Selatan, Sukiman, SPd kepada Gaung NTB, Selasa (22/11) mengungkapkan bahwa dalam melakukan kegiatan operasi tambang di Kecamatan Ropang, PT PAMA atau SJR dipandang tidak memiliki komitmen yang jelas dalam hal perekrutan tenaga kerja dan pemberdayaan masyarakat. Sikap perusahaan yang seperti itu menimbulkan reaksi penolakan dari masyarakat sekitar wilayah konsesi tambang.
“Pihak perusahaan harus melakukan pemetaan ketenagakerjaan, sebagai salah satu upaya dalam pemerataan perekrutan tenaga kerja dan pemberdaayaan masyarakat sekitar wilayah tambang, sehingga keberadaan perusahaan benar-benar memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” papar Sukiman.
Dikatan Sukiman, bahwa transparansi perusahaan dalam hal program kerja dan perekrutan tenaga kerja tidak berjalan secara baik, sehingga keberadaan perusahaan tersebut tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Maka untuk itu, Sukiman tekankan kepada perusahaan agar melakukan sosialisasi di beberapa kecamatan seperti Moyo Hulu dan Lantung, hal itu sebagai akselerasi area hulu dan hilir dari kegiatan tambang yang ada.
Untuk memudahkan pola kerja dan pendekatan sosial kemasyarakatan, juga diharapkan kepada perusahaan untuk merekrut koordinator wilayah di masing-masing kecamatan yaitu Lantung dan Moyo Hulu, sebagai upaya menghadirkan perusahaan berada di tengah-tengah masyarakat dan lebih memudahkan masyarakat mendapatkan informasi tentang program kerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Menjadi tugas perusahaan dalam hal melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat, khususnya masyarakat wilayah lingkar tambang,” tegas Sukiman.
Semetara itu Abdul Rauf– Tokoh Pemuda Lantung menambahkan, bahwa selama ini perusahaan tersebut tidak memiliki itikad baik dalam melakukan perekrutan tenaga kerja terhadap masyarakat lokal, terbukti dengan tidak transparannya sistem perekrutan tenaga kerja bahkan lebih cendrung memprioritaskan tenaga kerja luar daerah Sumbawa. Untuk perlu diketahui bahwa perekrutan tenaga kerja skil dan non skil haruslah memperhatikan masyarakat lokal, padahal di lokal sendiri tersedia banyak Sumber Daya Manusia yang siap pakai.
“Kami meminta agar pihak pemerintah daerah melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap perusahaan tersebut dan terdapat indikasi bahwa perusahaan tersebut tidak memperhatikan standar keselamatan dan kesejahteraan karyawan yang maksimal,” jelas Abdul Rauf.
Abdul Rauf dan Sukiman mengecam perusahaan, kalau beberapa hal tersebut tidak dengan segera ditindak lanjuti, maka lebih baik perusahaan hengkang dari Tana Samawa tercinta, bukan hanya itu bahkan mereka siap untuk memboikot setiap aktifitas yang dilakukan perusahaan atau dengan kata lain melumpuhkan secara total kegiataan perusahaan.
Dikonfirmasi Gaung NTB, Humas PT SJR Lukmanul Mubarak, menegaskan bahwa selama ini pihak perusahaan
telah melakukan apa yang menjadi kewajiban perusahaan selama ini. Terkait dengan apa yang menjadi keinginan dan permintaan dari beberapa tokoh selatan tersebut, Mubarak menegaskan bahwa akan menyampaikan dan membahas hal tersebut dengan manajemen perusahaan. “Kami pihak perusahaan mengajak semua pihak agar dapat memahami kondisi perusahaan saat ini,” ujar Mubarak.

LEAVE A REPLY