Pembangunan Pasar Jereweh Makan Korban Kepolisian KSB Harus Serius Usut

0
712
loading...
loading...

Taliwang, Gaung NTB
Berselang beberapa waktu lalu, Gaung NTB sempat mengulik sejumlah kejanggalan dalam konstruksi pembangunan Pasar Tradisional Jereweh. Belakangan telah menimbulkan korban jiwa yang tak lain dan tak bukan adalah buruh bangunan proyek Pasar Jereweh.
Atas insiden tersebut Kepolisian Sumbawa Barat, diminta serius mengusut kasus runtuhnya tembok proyek pembangunan pasar Jereweh, Sabtu (24/9) lalu. Bangunan tembok Proyek APBN senilai lebih dari Rp 9 Miliar tersebut, runtuh dan menimpa seorang pekerja hingga tewas.
Abdurrahman (53) warga RT 02 RW 01 Desa Beru Kecamatan Jereweh, pekerja konstruksi bangunan pasar tersebut meregang nyawa sesaat insiden salah satu tembok los pasar tiba tiba runtuh. Abdurahman tewas karena mengalami pendarahan aktif pada telinga bagian kanan. ‘’Korban meninggal akibat tertimpa tembok bata saat mengerjakan los pasar Jereweh,” ungkap Joehary Effendy, juru bicara keluarga korban, di Kantor Camat Jereweh, Senin (26/9).
Sebagai perwakilan keluarga Joehari menerima hasil visum dokter Puskesmas Jereweh. Abdurrahman meninggal sesaat luka bagian kepala kanan tengah dikompres petugas medis. Karena pendarahan aktif, nyawa pria yang telah di karuniai dua orang anak ini tak tertolong.
Menurut Joehari, korban adalah sosok pekerja keras. Ia memang bekerja sebagai buruh bangunan atau peladen. Sesekali merangkap sebagai tukang bangunan juga. “Pihak perusahaan mau bertanggung jawab dan memberikan santunan biaya pemakaman dan uang tali asih,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Camat Jereweh, Hendrajaya, mengatakan pemerintah kecamatan telah menyikapi insiden itu, dengan mempertemukan pihak keluarga korban dengan pelaksana proyek. Itu difasilitasi kepolisian Sektor Jereweh.
Dilokasi, kata dia, telah dipasang garis polisi. Polisi dari Polres juga telah datang meminta keterangan keluarga dan pelaksana. “Artinya sudah ada kesepakatan. Pihak keluarga korban menerima hasil keputusan tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi Gaung NTB.
Sebelumnya, pemerintah kecamatan menurut Hendrajaya, menerima laporan protes warga masyarakat terkait pelaksanaan proyek pasar tersebut. Warga menilai lokasi pembangunan proyek itu ditanah yang labil dan jalur banjir. Sehingga pihak pelaksana, pengawas dan pemerintah bersepakat untuk menambah ketinggian pondasi. “Bukan ketinggian pondasi, tapi ketinggian lantai. Tanahnya juga bukan labil,” terang Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pasar tersebut, Dimas Bayu Fajar, ST.
Dimas menyebutkan, terkait insiden runtuhnya tembok tadi, pihaknya telah memerintahkan pekerja untuk menghentikan proyek terlebih dahulu. Hingga potensi kerawanan konstruksi didata dulu.
Ia pun mengaku telah mengecek pelaksana dan lokasi, ternyata ring balok pengunci tengah yang terbuat dari beton belum dipasang. Sehingga membuat tembok tidak kuat. “Penyebab roboh ya karena ring balok pengunci belum dikerjakan,” tandasnya.
Saat disinggung apakah konstruksi banguann sesuai perencanaan atau RAB, ia menjawab sudah sesuai. Hanya saja, kata dia, mungkin saja pelaksana memiliki strategi atau cara pelaksanaan agar memudahkan alat berat atau truk pembawa material masuk.
Jadi, pelaksana tidak mengerjakan balok ring pengunci tadi untuk memudahkan alat berat masuk. “Itu makanya saya tekankan agar pekerjaan itu dilaksanakan terlebih dahulu. Saya juga meminta laporan Safety Miting atau standar keselamatan pekerja. Pekerja harus dilengkapi, helm, sarung tangan dan sepatu. Itu harus,” kata Dimas.
Tapi perwakilan korban dan saksi mata menyebut, saat tertimpa Abdurahman tidak mengenakan helm, sarung tangan bahkan sepatu. Bahkan, sebelum dievakuasi saksi melihat korban menggunakan sandal jepit warnah hijau dilokasi reruntuhan milik korban.
Kini tinggal penyidik kepolisian bekerja keras untuk mengungkap motif kelalain hingga menyebabkan runtuh dan seorang pekerja tewas. Kelalaian yang menyebakan meninggal dunia serta melanggar undang undang tentang keselamatan kerja juga bisa menimbulkan tindak pidana. Pertanyaannya, apakah polisi serius mengusut ini.
Ditemui terpisah Kapolres Sumbawa Barat, AKBP. Andy Hermawan, SIK, berulang kali enggan dikonfirmasi. Pertanyaan seputar insiden tadi dikirim wartawan ke ponselnya, namun tidak dijawab. Belum jelas, apa alasan kepala kepolisian ini tidak menginformasikan insiden serta hasil olah TKP atas kasus tadi.
Sebelumnya Gaung NTB, berulang kali menulis aksi protes masyarakat dan pemerintah desa terkait pelaksanaan proyek tersebut yang konstruksinya bermasalah. Pondasi bangunan dinilai janggal serta lokasi pembangunan ditanah yang labil dan rawan banjir. Meski belakangan PPK membantah laporan itu, namun yang pasti tewasnya salah seorang pekerja ini menambah misterinya proyek pusat ini.

loading...

LEAVE A REPLY