PT Newmont Nusa Tenggara

Kantor Ketahanan Pangan Wujudkan Disverifikasi Pangan

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Kantor ketahanan pangan kabupaten Sumbawa terus mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi bahan pangan lokal selain beras, dimana hal itu dilakukan dengan terus mensosialisasikan one day no rice di 10 Kecamatan di Kabupaten Sumbawa.
Kepala Kantor Ketahanan Pangan, Ir Surya Darmasyah kepada Gaung NTB, Senin (26/9) mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya terus berupaya mendorong dan mengedukasi masyarakat kabupaten sumbawa untuk mengkonsumsi bahan pangan lokal selain beras dan juga terigu. “Sejauh kami terus melakukan berbagai upaya agar masyarkat lebih mencintai dan mengkonsumsi bahan pangan lokal selain beras dan terigu,” ujarnya
Sambung Ir Darmasya_ upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi di sejumlah Kecamatan, baik di sekitar kota maupun kecamatan di daerah terpencil seperti Kecamatan Ropang dan Orang Telu termasuk sosialisasi One Day No Rice atau Sehari Tanpa Nasi di 10 Kecamatan. Sosialisasi sudah dilakukan di 7 kecamatan, yakni kecamatan Tarano, Unter Iwes, Labuhan Badas, Lenangguar, Alas Barat, Lunyuk, Moyo Utara dan sementara ada 3 kecamatan yang masih belum disosialisasikan yakni Lantung, Ropang dan Orong Telu. “Dalam waktu dekat ini akan disegera dilakukan,” paparnya.
Beberapa waktu yang lalu sosialisasi One Day No Rice dilakukan di Kecamatan Alas Barat, kegiatan tersebut merupakan kelanjutan kegiatan yang serupa yang digelar di berbagai kecamatan sebelumnya yang diikuti oleh tim penggerak PKK kecamatan dan Desa di Alas Barat. Hal tersebut mendapat apresiasi dan respon positif dari pihak pemerintah dan masyarakat setempat. “Camat Alas Barat juga menginstruksikan kepada aparat desa untuk mengalokasikan program One Day No Rice dalam RAPdesnya,” terang Ir Darmasyah.
Sosialisasi One Day No Rice tersebut akan dilanjutkan hingga tahun 2017 mendatang, baik di kecamatan sekitar Kota Sumbawa maupun wilayah-wilayah terpencil yang potensi pangan lokalnya cukup melimpah. Ir Darmasyah tidak memungkiri bahwa upaya untuk mendorong masyarakat mengkonsumsi bahan pangan lokal selain beras seperti ubi jagung, gadung dan sebagainya tidak semudah membalik telapak tangan, apalagi sejak zaman dahulu kala sudah tertanam dibenak masyarakat bahwa makanan pokok sehari-hari adalah beras atau nasi, jika belum mengkonsumsi nasi maka sama halnya mereka belum dikatakan sudah makan.
Sambung Ir Darmasyah_ Masyarakat Sumbawa umumnya jika sudah makan roti maka dijawab mereka belum makan, walaupun hal itu sudah mengenyangkan perut mereka. Bukan hanya itu jika kita tidak mengkonsumsi nasi maka yang terdoktrin dipikiran masyarakat adalah bahwa kita dianggap orang yang miskin, masyarakat yang ekonominya ke bawah, stigma atau paradigma yang seperti itu sulit untuk dirubah karena masyarakat sudah terlanjur bergantung pada nasi dan beras.
Masih Kata Ir Darmasyah_ Namun di sisi lain tidak sedikit dari masyarakat yang sudah mengetahui bahwa nasi yang dikonsumsi sehari-hari tersebut mengandung indeks glikemiks yang cukup tinggi artinya nasi sangat mudah diserap oleh tubuh menjadi gula darah yang lambat laun menyebabkan obesitas dan diabetes melitus sehingga membahayakan kesehatan. Normalnya tubuh manusia hanya mampu menyerap indeks glikemiks antara 77-55 sedangkan pada nasi 88-89, kelebihan tersebut jika dikonsumsi setiap hari maka akan mengendap menjadi racun jika nasi dikonsumsi tanpa ada aktivitas lain maka seseorang akan mengalami obesitas yang berujung pada diabetes dan penyakit berbahaya lainnya.
Lebih jauh Ir Darmasyah menerangkan, Provinsi NTB ada 4 desa yang masih mempertahankan tradisi untuk tidak mengkonsumsi makanan pokok nasi, yakni Desa Jenggala Kabupaten Lombok Utara, yang makanan pokoknya singkong atau ubi kayu sebagai pengganti nasi, mereka tidak mengkonsumsi nasi bukan berarti tidak mampu untuk membeli beras tetapi nasi atau beras merupakan alternatif kedua ketika ada acara adat setempat. Begitu juga di Desa Sigar Penjalin Lombok Utara yang juga mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokok namun sudah mendapat sentuhan teknologi, dimana singkong sudah diolah menjadi gaplek dan tepung. “Hal itu akan bertahan lama, cadangan makanan mereka bisa berjaga sepanjang masa karena singkong tadi bisa juga dibuat menjadi jajan atau aneka snack yang rasanya tidak kalah dengan roti dari tepung terigu”, terang pejabat yang akrab dengan awak media ini.
Begitu juga di Desa Temu, Kabupaten Sumbawa Barat makanan pokok masyarakat setempat adalah Gadung dimana sejak dulu mereka tetap melestarikan pangan lokal tersebut, termasuk juga di Desa Kokar Lian KSB yang menjadikan jagung sebagai makanan pokok pengganti beras.
Dikatakan Ir Darmasyah, bahwa pemerintah sejak tahun 2009 banyak regulasi yang dikeluarkan untuk pelaksanaan, jika dilihat Perpres Nomor 8 Tahun 2009 tentang gerakan percepatan penganekaragaman berbasis sumberdaya lokal disebutkan bahwa pangan lokal perlu disosialisasikan di masyarakat. Kenapa masyarakat kita belum tertarik mengkonsumsi pangan lokal sementara di satu sisi pemerintah berharap mengurangi makan nasi dan tepung terigu karena selama ini tepung terigu tersebut di impor yang tentunya akan menguras devisa negara, begitu juga pemerintah menggelontorkan anggaran yang cukup besar untuk Swasembada pangan. “Hal tersebut dikarenakan masyarakat terlalu bergantung pada nasi atau beras,” jelasnya.
Maka untuk itu perlu sentuhan teknologi dalam pengolahan bahan pangan lokal, sebab selama ini Baik penganggaran dan program masih terkesan Setengah Hati masih fokus pada program Swasembada pangan, ke depan program disverifikasi pangan menjadi prioritas kementerian pertanian.
Seperti yang diketahui pemerintah melalui Perpres, Permentan, Pergub bahkan Peraturan Bupati tahun 2014 sudah diterbitkan untuk melaksanakan kegiatan One Day No Rice dan sudah dicanangkan tahun 2014 yang lalu, saat peringatan Hari Pangan Sedunia tingkatan provinsi di mana setiap hari Rabu dicanangkan sebagai hari tanpa nasi atau Sehari Tanpa nasi, tapi itu juga belum cukup ada surat edaran Bupati Sumbawa ditujukan kepada SKPD dan camat sampai kepala desa yakni pada setiap kesempatan maupun pertemuan maupun acara di masyarakat agar bisa menyiapkan jajanan berbahan lokal selain terigu, selama ini hal tersebut telah disosialisasikan di sejumlah Kecamatan baik soal One Day No Rice juga soal makanan yang sehat berimbang, bergizi dan aman, termasuk sosialisasi soal pemanfaatan pangan lokal seperti yang dilaksanakan di Depok Jawa Barat.
Lanjut Ir Darmasyah, pada intinya program One Day No Rice itu bisa terlaksana jika pimpinan tertinggi daerah itu konsisten terhadap program tersebut. Selain sosialisasi soal pangan lokal pihaknya juga melakukan pendampingan bagaimana cara mengolah bahan pangan lokal tersebut menjadi menarik sehingga masyarakat menjadi lebih tertarik mengkonsumsi pangan lokal.
Selain memberikan teori, pihaknya juga mempraktekkan cara mengolah pangan lokal tersebut seperti pembuatan nasi goreng dari jagung nasi gadung dengan pelengkap nasi seperti sayur dan ikan. Selain itu juga melakukan pemetaan soal potensi pangan lokal hingga ke tingkat desa. “Sumbawa ada beberapa potensi dan ini yang akan dipetakan, teknologi pengolahan yang akan diprogramkan kedepannya sehingga masyarakat bisa langsung mengkonsumsi dan tidak memandang sebelah mata terhadap pangan lokal,” pungkasnya.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply