Ziarah Tambora: Arung Bahari dan Eksplorasi Budaya di Pulau Sumbawa

0
1048
loading...
loading...

oleh Arief Rahman

GaungNTB.com – Beberapa waktu lalu Ziarah Tambora diselenggarakan, tepatnya berlangsung dari 7-17 April 2016. Bukan perjalanan budaya biasa karena moving festival ini melewati jarak kurang lebih 6 ribu kilometer di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan bahari budaya ini melalui Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima. Ada sembilan lokasi yang dilewati yakni Kuta Lombok, pulau Kenawa, Sumbawa Besar, Gili Gambus, Gili Tapan, pulau Satonda, Labuan Kenanga, Doro Canga dan kota Bima. Di setiap lokasi berlangsung dialog budaya, eksplorasi seniman dan interaksi dengan masyarakat.

Dalam kesempatan diskusi di Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (6/4), kurator Ziarah Tambora Taufik Rahzen mengatakan, perjalanan ini bukanlah perjalanan wisata budaya biasa, melainkan pilot project dari perjalanan budaya. Jika selama ini, pertunjukan hanya berkutat pada daya tarik sebagai tontonan, maka sekarang perjalanan sekaligus pertunjukan ini berkaitan dengan eksplorasi rasa para seniman. Eksplorasi dan eksposisi rasa bagi seniman luar negeri maupun seniman lokal.

‘’Banyak seniman dunia tidak tertarik lagi dengan tontonan yang sekadar menawarkan pementasan tontonan biasa. Perspektif saat ini yakni menjajal rasa, empati dan nilai estetika dalam diri manusia,’’ tandasnya. Ringkasnya, perjalanan ini disebut sebagai “Journey Into the Heart of Earth, perjalanan ke hati ibu bumi”.

Ziarah Tambora pun dirancang mengutamakan pengalaman kreatif, penciptaan bersama dan perhelatan di alam terbuka. Para peziarah tidak saja menyaksikan obyek, tetapi juga menjadi obyek tontonan dari masyarakat yang didatangi. Artinya, peziarah dan masyarakat sama-sama berada dalam lingkaran ditonton dan menonton.

 

Kapal Multikultur, Pulau Pertunjukan
Ziarah Tambora_2Perjalanan ini dimulai dari pantai Kuta Lombok. Dari Lombok lewat kapal feri menuju pelabuhan Poto Tano, kemudian dilanjutkan ke pulau Kenawa yang eksotis. Pulau kecil milik Kabupaten Sumbawa Barat ini dikenal luas sebagai tujuan wisata bahari. Untuk ke pulau ini mesti naik perahu ketinting, biasanya dikemudikan nelayan Bajo. Di pulau eksotis ini disambut tarian kreasi Sumbawa Barat dan alunan vokal Bagero dari dua wanita paruh baya. Usai itu, maestro pertunjukan Bambang Besur gelar pertunjukan vokal, kemudian dilanjutkan kolaborasi musik mancanegara. Seluruh pertunjukan berlangsung di ruang terbuka, di atas pasir putih. Apresiator pun duduk dan berdiri di pasir. Suling, biola, harpa, gitar, kecapi, dan lainnya menyatu padu dengan deburan ombak.

Ziarah Tambora_4Dari pulau Kenawa kemudian dilanjutkan ke kota Sumbawa Besar. Disini berlangsung seminar ‘Antara Utopia dan Disutopia’, Sabtu (9/4). Malamnya digelar Alunan Gambus Semesta 2016 di Wisma Daerah Sumbawa, gedung bersejarah peninggalan Kesultanan Sumbawa yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda. Kembali kolaborasi berlangsung, kali ini Mustafa ‘Debu’ Daood mengalun bersama grup musik Gambus dari Tarano. Di wilayah ini, Gambus sudah hadir sejak jaman kesultanan Sumbawa dan menyebar hingga berbagai pelosok desa. Pada malam ini pula, melantun puisi reflektif ‘Ziarah Tambora’ dari penyair Dinullah Rayes. Puisi yang menyajikan histori dan harapan dengan nada syahdu.

Ziarah Tambora_6Esoknya, peziarah berangkat ke Desa Sangoro, Maronge untuk mengarungi kawasan Teluk Saleh. Tiba di Labuan Sangoro, para peziarah disambut ratusan nelayan yang antusias, kemudian beriringan perahu hias menuju Gili Gambus. Di pulau berbentuk alat musik gambus ini, Mustafa Daood dan Salim Daood melantukan syair cinta mistis. Di bawah sebuah pohon rindang, para penonton asyik menikmati tembang gambus, di hamparan rumput tebal dan pasir putih. Terik matahari di Minggu siang (10/4) itu tidak mengurangi antusiasme para nelayan.

Memang, kawasan Teluk Saleh ini selalu menarik. Hamparan laut biru, pulau-pulau, dan ikan-ikan yang hilir mudik di sela-sela koral. Teluk ini dikenal sebagai penghasil ikan di Nusa Tenggara Barat. Juga teripang dan rumput laut. Di kawasan inilah para nelayan dari suku Samawa, Mbojo, Sasak, Makasar, Bugis, Mandar, Buton, Bajo, Madura, Timor dan Melayu bersilahturahmi dalam tradisi laut.

Ziarah Tambora_5Dari Gili Gambus meluncur ke Gili Tapan. Di pulau yang dihuni 80 kepala keluarga ini berlangsung hajat laut, upacara penghormatan terhadap Tuhan Maha Kuasa yang memberi kelimpahan hasil laut. Tradisi para nelayan untuk menjaga keseimbangan, harmoni dan perdamaian.

Esoknya, Senin (11/4), para peziarah bergerak dengan kapal menuju pulau Satonda. Dalam perjalanan satu jam lebih tersebut, para musisi memainkan lagu memikat yang dipersembahkan ke rombongan ziarah dan lautan. Di pulau Satonda ini berlangsung pula presentasi dan diskusi dari Ridwan Alimuddin tentang Sandeq, edukasi publik dan pemberdayaan orang Mandar di Sulawesi. Malamnya, kembali para musisi melakukan kolaborasi pertunjukan. Eksplorasi rasa dan estetika bunyi.

Rabu pagi, rombongan meluncur ke Labuan Kenanga untuk menikmati Coffea Creative dan pertunjukan yang disajikan warga Kenanga, Dompu. Warga Kenanga yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan petani ini berbaur dengan rombongan mengenang 201 tahun meletusnya Gunung Tambora. Pada sore hari, para peziarah meluncur ke desa Pancasila. Desa yang dikenal sebagai jalur masuk pendakian menuju puncak Tambora. Desa yang diberi nama oleh pemerintah Orde Baru ini juga dihuni berbagai suku bangsa. Sejak dahulu, awal abad ke-20, kawasan ini dikenal sebagai penghasil kopi khas Tambora. Perkebunan kopi Tambora itu dibangun oleh koperasi sosial dari Swedia yang dipimpin Borjklund.

Ziarah Tambora_8Di desa sejuk ini dihadirkan pertunjukan Peresean dari Sasak, tarian Tambora dari Labuan Kenanga, tarian Samawa, dangdut, pemutaran film dan lainnya. Beragam pertunjukan disajikan, dari anak-anak hingga dewasa, seluruh terlibat membangun memori atas Tambora.

Tak jauh dari desa Pancasila, di Oi Bura berlangsung pameran, eksposisi instalasi, performance art, dan eksplorasi tari. Aktivitas di wilayah Kabupaten Bima ini lebih menonjolkan eksplorasi seni dan alam. Para seniman berkarya dengan menghayati alam Tambora.

Di Doro Canga hadir performance art ‘Ritual Kopi Tambora’ dari Ridwan Manatik. Dilanjutkan dengan pemutaran film ihwal letusan Tambora dan tradisi bahari Indonesia. Dari Doro Canga, perjalanan dilanjutkan ke Kabupaten Bima dan Kota Bima. Di Museum Asi Mbojo, kembali pertunjukan ‘Kahwa Tambora’ digelar. Diteruskan dengan dramatic reading dari N. Marewo, dan pertunjukan musik Gambus dari Bima. Tak ketinggalan, para seniman yang sedang menempuh etnomusikologi di ISI Surakarta berkolaborasi menggelar world music.

Museum Asi Mbojo dan Wisma Daerah Sumbawa ialah bangunan bersejarah dari Kesultanan Bima dan Kesultanan Sumbawa, dua kesultanan besar di Pulau Sumbawa yang merasakan langsung dampak letusan Tambora.

 

Utopia dan Disutopia
Perjalanan dalam rangkaian Festival Pesona Tambora 2016 ini melibatkan 50 orang seniman lokal, nasional dan internasional. Perjalanan ini diikuti seniman dari Indonesia, Amerika, Meksiko, Polandia, Inggris, Srilanka dan Mozambik.

Ziarah Tambora_3Menurut budayawan Jean Couteau, perjalanan wisata tidak lagi sekadar menikmati keindahan alam semata, namun perlu adanya silahturahmi antara manusia dan alamnya. Perjalanan budaya menjadi menarik ketika ada interaksi antara seniman dan masyarakat, terjadi dialog budaya. “Peziarahan ini menonjolkan silahturahmi antar budaya, interaksi antara seniman dengan masyarakat, antara seniman dan alam,” ucap budayawan kelahiran Perancis ini (16/4) di Kota Bima.

Dalam kesempatan berbeda, aktor senior Ray Sahetapy menilai perjalanan ini merupakan kegiatan luar biasa. Hal terpenting menurutnya, semua pihak dapat memahami keseimbangan alam. Pendidikan ke anak cucu tidak hanya di ruang kelas, namun perlu dikenalkan langsung di alam terbuka.

Panitia Ziarah Tambora, Indah Patriah menambahkan, event yang didukung oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia dan lima pemerintah daerah ini sangat menarik dikembangkan. “Setiap lokasi memiliki keunikan alam dan kelebihan budaya masing-masing. Berbagai suku bangsa dapat berjumpa dalam perjalanan ini. Semuanya memiliki potensi bahari dan budaya yang menarik,” tambahnya (18/4).

Menurutnya, melalui perjalanan ini diharapkan dapat mendorong kemajuan pariwisata, industri kreatif dan kearifan lokal. “Pemerintah daerah dan seniman setempat berencana membuat festival sendiri, event yang sesuai dengan potensi masing-masing. Inisiatif yang patut disyukuri sekaligus dihargai karena untuk membangun sesuatu diperlukan kerjasama banyak pihak,” ujar pengurus Aliansi Indonesia Festival (ALIF) ini.

Di penghujung perjalanan, budayawan Taufik Rahzen mengatakan, Tambora merupakan salah satu tempat yang kerap menjadi sasaran terselenggaranya utopia dan disutopia. Sebagai gunung tertinggi pada masanya dan terhampar di teluk luas yang kaya biodiversitas, kawasan ini silih berganti menjadi sasaran utama perjalanan.

Ziarah Tambora_9Pada abad ke-15, Laksamana Cheng Ho berlayar mencari air liur naga dan kayu sepang, kemudian menyebut daerah ini sebagai Jili Dimen (sembilan pulau di timur). Di abad ke-16, para penjelajah Spanyol dan Portugis menamakannya Gunung Aram, wilayah bertabur emas. Petualang Tallo dari Makassar dan Dahyang Nirartha dari Jawa beranggapan Tambora sebagai pusat kosmos.

Tetapi letusan Tambora pada tahun 1815, yang menelan korban sekurangnya 117.000 jiwa dan menghancurkan 3 kerajaan, membuat seluruh impian tersebut runtuh. “Seluruh idealisasi dan utopia yang dibangun tersapu dengan meletusnya gunung ini. Kawasan ini mengalami disutopia total, melenyapkan seluruh mimpi, gagasan hingga kehidupan mereka sendiri,” tuturnya (19/4).

Pemerintahan Indonesia kemudian kembali menjadikan kawasan Tambora sebagai kawasan idaman. Pada Orde Baru dibangun pemukiman para transmigran. Dan kini dirancang kawasan idaman baru yang dirangkul dalam jalur Samota. “Kini dibangun industri pertanian gula dan tebu, kemudian peternakan, pertambangan, perikanan dan pariwisata dikembangkan secara ekstensif menjadi sebuah utopia baru,” pungkasnya. [Foto: Alal/Kembar Sagala]

loading...

LEAVE A REPLY