Harapkan Dialog Keagamaan, Wadah Memaknai Keragaman & Spirit

0
1251
loading...
loading...

Taliwang, Gaung NTB – Dialog keagamaan yang berlangsung pada Selasa (03/05) pukul 10.00 Wita, bertempat di Hotel Andi Graha – Taliwang, melibatkan banyak stakeholder. Dalam kesempatan itu Bupati Sumbawa Barat, DR Ir H W Musyafirin MM melalui agenda yang bertemakan “Peran Serta Lembaga Keagamaan dalam Mewujudkan Masyarakat KSB yang Mandiri, Sejahtera, dan Berkepribadian berlandaskan Gotong Royong”.

Bupati KSB, H Musyafirin menyebutkan, dialog keagamaan dinilai sangat penting bagi masyarakat Sumbawa Barat, khususnya dalam memaknai keragaman dan spirit untuk sama-sama membangun daerah.

Sesuai dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental, percepatan pembangunan yang ingin kita gapai bukan hanya secara fisik, tapi yang terpenting adalah pola pikir dan mental manusia Indonesia. “Kita juga patut bersyukur karena masih diberi keleluasaan dan ketekunan untuk bekerja dengan ikhlas, jujur, dan sungguh-sungguh, terutama di masa 100 hari pengabdian kami, Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat,” urainya.

Beberapa capaian terkait dengan Program Daerah Pemberdayaan Gotong Royong (PDPGR) yaitu jambanisasi, yang kini tengah berjalan, tak lepas dari peran serta aparatur yang telah bekerja secara profesional dan mengedepankan pengabdian, begitu pula dengan seluruh elemen masyarakat yang telah memberikan pemetaan atas masalah dan gambaran solusi, demi percepatan pembangunan daerah, papar H Firin sembari meyinggung sedikit tentang program kerjanya.

Menurutnya, membangun sebuah peradaban yang berkarakter hanya dapat diwujudkan jika individu-individu meresapi nilai-nilai Pancasila, sebagai jiwa dan kepribadian sebuah bangsa, yaitu Indonesia. Karakter budaya nasional Indonesia yang dimaksud bertumpu pada empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pembangunan karakter adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dilepaskan dari faktor budaya. Tak dapat dimungkiri bahwa budaya nasional berbasis pada kearifan budaya lokal di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang multikultur.

Keragaman dan segala perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia bukanlah momok atau penghalang, tapi modal sosial untuk memperkaya kebudayaan nasional. Sebagai negara yang berinteraksi dan berada dalam lingkar budaya global, karakter masyarakat Indonesia haruslah tetap berpegang pada identitasnya sebagai bangsa, ucap H Firin.

Bangsa Indonesia dalam platform budaya nasional tengah berinteraksi dengan budaya lokal dan global sehingga tergambar karakter kehidupan seperti adagium “Think globally, Act Locally, and Commit Nationally”.

Ketiga karakter kemampuan atau kompetensi ini bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan satu sama lain, melainkan harus terintegrasi dan bersinergi sehingga menjadi satu kekuatan modal sosial, sebuah budaya nasional yang dinamis.

Bentuk keragaman yang dominan dimiliki bangsa Indonesia adalah agama dan budaya. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia memiliki tantangan tersendiri untuk mewujudkan masyarakat sejahtera.

Agama erat sekali kaitannya dengan budaya, karena tidak mungkin agama akan mengakar dalam suatu masyarakat tanpa suatu perjumpaan budaya. Adalah sebuah tugas besar bagi pemerintah, para pemuka agama, pengurus lembaga keagamaan, dan pemikir yang “concern” terhadap perkembangan kehidupan masyarakat di bidang agama dan budaya untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa yang berkarakter.

Bahkan H Firin pun mengemukakan, dengan berbagai gempuran global yang tak dapat dihindari, sangat penting bagi bangsa Indonesia, termasuk di Sumbawa Barat, untuk memegang teguh nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal.

Hal inilah yang coba diterjemahkan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, dalam sebuah Program Daerah Pemberdayaan Gotong Royong (PDPGR). Sebagai manifestasi dari keteguhan bersama menanamkan kembali pentingnya Pancasila, PDPGR merupakan bukti komitmen pemerintah dan masyarakat KSB untuk menuju Trisakti, yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya.

Dengan perwujudan tersebut, “maka kita akan menemukan bahwa inti dari Pancasila adalah Gotong Royong. Dengan bergotong royong, maka segala sesuatu bisa kita raih bersama, tentunya dengan komitmen bersama pemerintah dan seluruh masyarakat,” timpal H Firin akrab pejabat ini disapa.

Ia mengharapkan dialog Keagamaan menjadikan pertemuan ini bermakna dan menghasilkan solusi yang cerdas untuk mewujudkan masyarakat KSB yang mandiri, sejahtera, dan berkepribadian. “Bapak, Ibu, Saudara adalah bagian dari elemen penting untuk sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Mari memperlakukan diri dan lingkungan secara inklusif sehingga tercipta perjumpaan budaya dan keragaman, karena setiap tindakan adalah cermin dan amanah dari umat. Perbedaan bukanlah hal yang harus dipertentangkan, tapi harus disikapi dengan bijak, agar menjadi potensi luar biasa demi pembangunan Sumbawa Barat yang lebih baik,” imbuh Haji Firin.

loading...

LEAVE A REPLY