Tak Serius Bangun Smelter, Newmont Terancam

0
7485
loading...
loading...

Jakarta, Gaung NTB – Kementerian ESDM, menilai kerjasama PT Newmont Nusa Tenggara (Newmont) dengan PT Freeport Indonesia (Freeport) dalam membangun smelter, masih dalam proses. Hal ini disampaikan langsung Presiden Direktur Newmont, Rachmat Makkasau saat menemui Dirjen Minerba, Kementerian ESDM, Bambang Gatot.
“Pertemuan tadi itu dia menyampaikan kalau masih dalam proses pembahasan. Jadi belum ada persyaratan yang dilengkapi untuk mendapatkan rekomendasi SPE (Surat Persetujuan Ekspor),” kata Bambang di Jakarta, Rabu (3/11).

Dengan demikian, Newmont belum mendapatkan rekomendasi izin ekspor konsentrat dari pemerintah.
Sekedar informasi, kerjasama definitif yang dimaksud, Newmont menempatkan dana partisipasi (chip in) dalam proyek smelter senilai US$ 2,3 miliar. Selain itu, dalam kesepakatan kerjasama harus pula tertuang mengenai kuota konsentrat yang bakal dipasok Newmont.

Kerjasama definitif merupakan persyaratan yang harus dilengkapi Newmont guna memperoleh rekomendasi SPE. Rekomendasi ini sebagai pintu masuk agar Newmont mendapat izin ekspor yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan.

Sementara itu Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta revisi bukan hanya sekadar revisi. Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Mohammad Hidayat bilang bahwa Tim teknis Kementerian ESDM meminta Definitif Agreement bukan lagi MoU. “Itu biar clear,” terangnya.

Definitif Agreement kata Hidayat, agar Kementerian ESDM diyakini bahwa Newmont ingin bangun dan melakukan kerjasama dengan Freeport baik aspek finansial maupun teknis pembangunan smelter.

“Kalau kami ingin secepat-cepatnya, kita kan tidak ingin produksi mereka juga terganggu, kalo terganggu kan tidak bagus buat usaha. kita tidak ingin seperti itu,” tandasnya.

Defintif Agreement merupakan persyaratan yang harus dilengkapi Newmont guna memperoleh rekomendasi SPE. Rekomendasi ini sebagai pintu masuk agar Newmont mendapat izin ekspor yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan.

Untung Rp 110 Miliar
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatat laba bersih US$ 8,5 juta dalam sembilan bulan pertama 2015. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) itu masih rugi US$ 86,3 juta (Rp 1,12 triliun).

Naiknya laba tersebut didorong oleh peningkatan produksi dari perusahaan terafiliasinya, yaitu PT Newmont Nusa Tenggara (NNT).

“Tahun ini lokasi tambang Batu Hijau yang dikelola oleh NNT telah secara signifikan meningkatkan volume produksi konsentrat tembaga dan emasnya dari periode yang sama tahun lalu. Oleh karenanya, Perusahaan dapat membukukan laba bersih sebesar US$ 8,5 juta. Pencapaian ini merupakan kemajuan dari kuartal lalu dan juga dari tahun sebelumnya,” kata Direktur Utama BRMS, Suseno Kramadibrata, dalam siaran pers, Rabu (14/11).

Tahun lalu, Newmont masih menyumbang rugi sekitar US$ 65,3 juta ke laporan kinerja perusahaan Grup Bakrie itu. Tahun ini sumbangannya laba US$ 80,9 juta.(Ant)

loading...

LEAVE A REPLY