Marah Rusli di Pulau Sumbawa

0
1385
loading...
loading...

marah_rusliPada 1915, Marah Rusli sekeluarga menginjakkan kakinya di pulau Sumbawa. Sejak itu, tanah Sumbawa membawa memori baik bagi pelopor sastra baru Indonesia ini. Terbukti dengan karya sastranya yang jadi klasik, La Hami (1924).

Marah Rusli berada di Sumbawa karena tugas dinas. Usai tamat Sekolah Dokter Hewan di Bogor, pemerintah Hindia Belanda menugaskannya sebagai Ajunct Dokter Hewan di Sumbawa Besar. Ketika itu, Sumbawa Besar tidak seperti saat ini. Masih termasuk wilayah peternakan yang terpencil. Setahun kemudian, ia ditugaskan di Bima sebagai Kepala Daerah Kehewanan. Pada 1918, ia kemudian dipindahkan lagi ke Bandung. Walau hanya tinggal tiga tahun di pulau Sumbawa, pengarang Siti Nurbaya (Balai Pustaka, 1922) ini terkesan sekali.

Selama di Sumbawa Besar, Marah Rusli tidak berdiam diri. Giat bekerja melakukan kewajiban sekaligus berupaya mensejahterahkan peternak. Ia mengusahakan tanam-tanaman yang belum ada, dan mengurus tanaman yang belum dikelola dengan baik. Juga mengurus kuda-kuda, yang menurutnya, cara memelihara di Sumbawa tidak memenuhi syarat kesehatan. Saat itu, masih banyak kuda-kuda yang mati karena sakit dan kurang makan-minum. Maklum saja, pada masa itu, kuda dilepas begitu saja, cari makan-minum sendiri. Dibiarkan tumbuh berkembang sendiri.

Pemerintah Hindia Belanda sempat mengeluarkan peraturan agar kuda-kuda dikandangkan. Tetapi aturan tersebut tidak ada yang mematuhi. Rakyat tidak terbiasa mengandangkan kuda-kudanya. Demi ketertiban, kemudian, kuda yang masih dilihat dilepas ditembak petugas. Kuda liar dianggap menganggu kenyamanan umum. Aksi penembakan kuda ini kemudian dilawan oleh rakyat Taliwang, hingga seorang dokter hewan keturunan Belanda terbunuh. Perlawanan dapat dipadamkan tetapi keadaan tidak segera pulih.

Untuk menangani situasi tersebut, Marah Rusli lebih berhati-hati. Dengan kampanye bertahap mengenai pentingnya peraturan tersebut, dan tindakan yang bijak, rakyat Sumbawa lebih menghargainya. Sultan Sumbawa dan pejabat kerajaan menyukai solusi gaya Marah Rusli ini. Rakyat Sumbawa pun suka penyelesaian seperti ini.

Ketika puteri Sultan Sumbawa dinikahkan, keluarga Marah Rusli mempersembahkan kue dari kembang gula yang dibentuk seperti istana Sumbawa, lengkap dengan balairung, anjung peranginan dan mahligainya. Ada pula kue yang menyerupai Sultan mengendarai kuda, dengan iringan menteri dan hulu balang kerajaan. Dipersembahkan lagi kue dengan beberapa ayat Al Quran, dengan ucapan selamat atas pernikahan puteri Sultan. Atas persembahan tersebut, Sultan Sumbawa senang sekali. Sebagai balasan, dikirim bawaan yang diiringi pasukan dan diserahkan dengan upacara kebesaran.

Kurang lebih setahun kemudian, 1916, Marah Rusli pindah tugas ke Bima. Disini, isteri Marah Rusli (Nyai Raden Ratna Kencana) akrab dengan permaisuri Sultan Bima. Bahkan, keluarga dokter hewan ini dikenal akrab dengan Sultan Dompu. Oleh Sultan Dompu, Marah Rusli diberi mustika ular, yang katanya berasal dari seekor ular besar. Itu sebabnya keluarga Marah Rusli betah berada di pulau Sumbawa.

Selama di pulau Sumbawa, kesulitan hidup manjadi latihan hidup bagi orang Minangkabau ini. Bahkan, ia jadi belajar berbagai macam hal. Susah senang, ia jalani di Sumbawa. Ia ikut berburu rusa, siang dan malam. Ikut mencari ikan di teluk dan sungai. Menangkap belibis di sawah, ikut pula mencari penyu di pantai. Juga memeriksa kuda liar yang berbahaya tapi menantang.

Di Sumbawa, Bapak Roman Modern ini bergaul dengan semua kalangan. Dia dekat dengan keluarga kerajaan, bersahabat dengan kemenakan Sultan Dompu Lalu Achmad. Banyak ditolong Haji Sarbaini, akrab dengan Ina Lido dan Papin Raga. Pergaulan sastrawan ini melintasi batas status sosial, dari bangsawan hingga orang biasa.

Sayang, anaknya terserang penyakit malaria, hingga dokter di Bima sudah putus asa mengobatinya. Mau tidak mau, Marah Rusli harus memindahkan keluarganya ke Bogor, sekaligus pindah tugas di Bandung.

Sebagai kenangan atas pengalaman berkesan selama di Sumbawa, Marah Rusli kemudian menulis roman sejarah yang dijuduli La Hami. Cerita ini disusun berdasarkan rangkaian peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi sebelum gunung Tambora meletus 1815.

Roman ini masih seputar keluarga bangsawan di pulau Sumbawa. La Hami ialah anak Sultan Bima yang dibuang oleh Mangkubumi. Mangkubumi punya ambisi mendudukkan anaknya sebagai pewaris kerajaan. La Hami yang dibuang kemudian dirawat pula oleh keluarga bangsawan Sumbawa yang mengasingkan diri di daerah terpencil. La Hami pun diajari kebajikan dan kesaktian.

Menanjak dewasa, La Hami jatuh cinta dengan puteri dari kerajaan Dompu, namun karena statusnya orang biasa, ia tidak bisa menjalin hubungan asmara. Lewat perjuangan dan upaya berat, akhirnya La Hami bertemu dengan ayah ibunya yang asli. Setelah diketahui ia anak Sultan Bima, akhirnya ia menikah dengan kekasihnya.

Kisah happy ending, roman yang berakhir bahagia. Berbeda sekali cerita Siti Nurbaya, tidak ada pertentangan adat dan perlawanan atas status sosial didalamnya. Walau demikian, Marah Rusli sudah berhasil memperkenalkan budaya dari pulau Sumbawa ke seluruh nusantara. La Hami sudah dibaca beribu-ribu kaum muda.

Marah Rusli tak pernah melupakan pulau Sumbawa. Kakek dari musisi Harry Roesli ini sudah menorehkan ingatan atas Sumbawa di alur kisah Indonesia.

 

Arief Rahzen, pekerja budaya yang tinggal di Sumbawa dan Jakarta.

loading...

LEAVE A REPLY