Sertifikat Jaminan Tidak Kunjung Dikembalikan, Nasabah Protes Danamon

0
4720
loading...
loading...

Taliwang, Gaung NTB – Khaiwil W Zakariah, seorang nasabah Bank Danamon Kantor Cabang Pembantu (KCP) Taliwang, memperotes bank dimaksud karena sampai berbulan-bulan belum juga mengembalikan sertifikat jaminan atas pinjaman yang telah dilunasinya.

Kepada Gaung NTB, Kamis (1/5), Ia mengungkapkan pernah
melakukan pinjaman sejak bulan April 2013 sebesar Rp 105 juta dengan jaminan sertifikat rumah milik orang tuanya yang berdomisili di Sumbawa Besar, dengan jangka waktu pinjaman selama 5 tahun.

Karena merasa pinjaman ini memberatkannya, Khairil pun pada bulan Februari 2014 lalu, memutuskan untuk melunasi pinjamannya, walau baru berjalan 10 bulan dan mendapat pinalti untuk dua bulan angsuran dan resiko membayar pelunasan jauh lebih besar dari jumlah pinjaman yang didapat.

Namun, tanda-tanda pihak bank akan mempersulitnya mulai terlihat sejak Ia menyampaikan niat melunasi pinjaman itu ke staf Bank Danamon, pada tanggal 19 februari 2014 lalu (angsuran bulanan pinjaman jatuh tempo setiap tanggal 19).

Saat itu, staf Danamon beralasan pimpinannya sedang ikut training di Bali jadi pelunasan tidak bisa diproses. Satu minggu kemudian, ia kembali lagi dan bertemu langsung dengan Pimpinan Bank Danamon Taliwang, Wahyu, untuk menyampaikan niat pelunasan tersebut.

“Baru saja saya duduk pimpinan bank langsung mengajukan pertanyaan dengan nada tidak bersahabat, darimana dapat uang untuk pelunasan. Saya jelas tersinggung, karena dari manapun uang tersebut, itu bukan urusan bank. Masa sekelas pimpinan bank seperti dia tidak tahu etika menghadapi nasabah,” cetusnya.

Kesan dipersulit semakin kentara ketika pimpinan bank tersebut
menyatakan bahwa untuk nasabah lancar atau tidak pernah lewat membayar angsuran dari tanggal jatuh tempo setiap bulan seperti Khairil, proses pelunasan pinjaman memang butuh proses panjang.
Itu pun nasabah diwajibkan menyetor uang pelunasan dimuka, dengan bunga pinjaman tetap dihitung selama permohonan pelunasan belum disetujui pihak bank, sementara untuk nasabah bermasalah prosesnya cepat.

“Ini kan aneh, masa nasabah lancar dipersulit, sedangkan nasabah
bermasalah langsung disetujui,” sesalnya. Meskipun merasa kesal, Khairil akhirnya setuju dengan syarat tersebut dan menyetorkan uang untuk pelunasan sebesar Rp 104 juta pada tanggal 24 februari 2014. Tetapi pimpinan Danamon Taliwang menyatakan permohonan pelunasan itu baru bisa diproses pada awal bulan dan bunga
pinjaman tetap dihitung. Pelunasan akhirnya baru disetujui pada
tanggal 5 maret 2014 dengan nilai pelunasan sebesar Rp.103 juta lebih.

Persoalan ternyata tidak selesai sampai disitu, karena meski telah
melunasi semua kewajibannya kepada Bank, sertifikat rumah yang
dijadikan jaminan sampai sekarang belum dikembalikan Danamon. Khairil menyatakan saat pelunasan disetujui, staff bank tersebut berjanji paling lama sertifikat sudah dikembalikan dalam jangka waktu 10 hari karena prosesnya harus melalui notaris dan lokasi jaminan berada di Sumbawa. Selang 10 hari kemudian, ketika kembali mendatangi Danamon, staff bank berdalih sertifikat itu belum bisa dikembalikan karena masih diurus pihak notaris. Staff dimaksud meminta Khairil kembali satu minggu lagi dengan alasan sertifikat itu masih diproses di BPN (Badan Pertanahan Nasional) Sumbawa. “Tetapi satu minggu kemudian alasannya masih tetap sama, sertifikat masih diproses di BPN dan kepala BPN sedang cuti. Sampai lebih dari satu bulan alasannya tetap sama, saya juga sempat diminta bicara langsung dengan staf notaris untuk memperkuat alasan itu,” bebernya.

Terakhir, Khairil mendatangi Danamon Taliwang pada pertengahan april lalu dan bertemu langsung dengan Dessy, pimpinan Danamon Taliwang pengganti Wahyu yang telah dimutasi. Dessy lagi-lagi berjanji bahwa sertifikat itu segera dikembalikan paling lama 1 April dengan alasan masih diurus di BPN Sumbawa, mengingat kepala BPN masih tidak berada di ditempat, karena baru dimutasi. Tetapi janji tersebut lagi-lagi tidak ditepati. “Kalau kepala BPN setahun tidak berada di tempat berarti setahun juga sertifikat itu tidak diproses ? dimana tanggungjawab Danamon terhadap
nasabah ?,” ujarnya.

Ia mendesak Danamon untuk segera mengembalikan sertifikat dimaksud dan menghimbau masayarakat untuk selektif dan berhati-hati memilih jika ingin berurusan dengan bank.
“Saya akan melaporkan masalah ini ke lembaga perlindungan konsumen, karena Danamon tidak menghargai dan mempermainkan nasabah. Seolah-olah setelah mendapat keuntungan berlipat ganda, kepentingan nasabah diabaikan,” tandasnya.

loading...

LEAVE A REPLY