Sastrawan Sumbawa Diundang ke Jepang

0
1152
loading...
loading...

Sumbawa Besar, Gaung NTB – Kabupaten Sumbawa, kembali mendapatkan kehormatan dengan pendokumentasian bahasa Sumbawa di ajang tingkat Asia-Pasifik. Event berlabel “Collaborative Work On Language Documentation Of The Sumbawa Language” ini diselenggarakan oleh Universitas Tokyo, 16 hingga 21 Maret 2014 dalam rangka Penelitian Bahasa dan Kultur se Asia–Afrika. Dalam hal ini, Asako Shiohara peneliti dari Resech Institute for Language and Cultures of Asia and Afrika Tokyo University Of Foreign Studies, Jepang, yang telah melakukan riset khususnya tentang Bahasa Sumbawa (Samawa) selama kurang lebih 16 tahun, mengundang tiga duta dari Kabupaten Sumbawa, yaitu Dedy Mulyadi (ketua BPD Desa Pungka), Syamsul Bahri dan Ade Erma Lestari (Guru SMAN 3 Sumbawa Besar). Ketiga orang perwakilan dari Sumbawa akan hadir dengan kapasitasnya masing – masing sebagai konsultan bahasa Sumbawa, interpreter Bahasa Sumbawa ke Bahasa Jepang, dan pendokumentasi.

Kepala Bagian Humas dan Protokol melalui Kasubbag Humas, R Rudi Yulianto SE M.Sc MAP menilai undangan tersebut sangat positif bagi Kabupaten Sumbawa. Sebab melalui event tersebut Bahasa Sumbawa dijadikan materi bahasan utama dan sekaligus didokumentasikan keberadaannya.

Ia mengaku tak menyangka seorang warga negara Jepang meraih gelar profesornya dengan mempelajari secara serius tentang sejarah Bahasa Sumbawa sejak Tahun 1998. Dengan komitmennya tersebut hingga saat ini bahasa Sumbawa menjadi dikenal hingga ke Asia Pasifik. Tentu hal tersebut dapat menjadi motivasi bagi para generasi muda untuk tidak melupakan dirinya sebagai Tau Samawa dengan tetap melestarikan budaya Sumbawa. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan Bahasa Sumbawa dalam berinteraksi dan mengenal tradisi Sumbawa. “Semoga itu semua dapat menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kabupaten Sumbawa untuk selalu menghargai dan melestarikan warisan budaya dan tidak mudah terkontaminasi dari arus negatif globalisasi,” ucap Rudi.

Sebelumnya Dedy Mulyadi mengatakan, keberangkatannya bersama dua rekannya ke Tokyo Jepang, sebagai bentuk penghormatan atas undangan sahabatnya Asako Shiohara. Semua biaya keberangkatan dan kepulangan serta selama berada di Jepang, kata Dedi, ditanggung sepenuhnya Tokyo University. “Di sana nanti kami akan menjadi peserta bedah sastra se Asia Afrika termasuk sastra jontal Samawa selama 10 hari dari 14 Maret sampai 23 Maret 2014,” katanya.
Di acara ini mereka akan mempresentasikan tentang sastra jontal Samawa baik tentang tatacara penyebutan maupun penulisannya.

Dedy mengaku kenal dengan Prof Asako sejak Tahun 1996 ketika datang ke Indonesia melakukan penelitian bahasa dunia termasuk sastra jontal Samawa. Profesor asal Jepang ini rupanya sangat tertarik dengan sastra jontal sehingga dua tahun sekali rutin berkunjung ke Sumbawa untuk mempelajari sejarah sastra jontal tersebut. “Hasil penelitian yang kami lakukan bersama Asako Shiohara ini berhasil menemukan sebuah batu nisan bertuliskan sastra jontal Samawa di kuburan milik Pua Bonga di Desa Labuan Burung Kecamatan Buer yang diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun dengan meninggalkan keturunan bernama Rusdi,” paparnya.

Di samping batu nisan itu terdapat tulisan tangan sastra jontal yang dibuat menggunakan pisau ukiran (pangat, Red) milik H Bateh warga Simu yang berusia sekitar 120 tahun. Tulisan itu menjelaskan tentang tatacara pengobatan. Bahkan ada lempengan sejenis papan nama terdapat di Bala Kuning yang menginformasikan tentang berdirinya pendopo (Wisma Daerah) sejak Tahun 1938. “Seluruh temuan yang bertuliskan sastra jontal ini diteliti di Tokyo University. Inilah dasar kami diundang ke Tokyo untuk menjelaskan tentang sastra Jontal Samawa itu,” aku Dedy.
Sementara itu Kadis Diknas Sumbawa, Sudirman Malik S.Pd mengaku bangga dengan ketiga putra daerah ini.

Karena kecerdasannya, ketiganya mampu memberikan konstribusi dengan memperkenalkan sastra jontal di luar negeri, yang secara tidak langsung mengangkat nama daerah di mata dunia. “Ini patut kita dukung, dan berharap saat mereka kembali akan mampu menjelaskan secara komprehensif soal sastra jontal Samawa baik menyangkut tatacara penyebutan dan penulisannya yang benar,” pungkasnya.

loading...

LEAVE A REPLY