Johan Rosihan Calonkan Diri Sebagai Anggota DPRD NTB

0
951
loading...
loading...

Mataram, Gaung NTB – Johan Rosihan anggota Komisi II DPRD NTB, kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD NTB untuk ketiga kalinya dalam Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif yang akan digelar pada 9 April 2014.

Dia maju untuk menjadi wakil rakyat melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari dapil lima meliputi Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).

Johan yang lahir pada 29 Oktober 1972 di Sumbawa Besar di Mataram, Kamis (13/3), menjelaskan pihaknya bertekad untuk memperjuangan kedua dapilnya sesuai bidangnya di Komisi IV.

Komisi IV membidangi Bidang Pertanian, Peternakan, Perkebunan, perikanan dan Kelautan, Perindustrian dan Perdagangan, Pariwisata, Koperasi dan UKM, Dunia Usaha/investasi, Keuangan Daerah, Aset Daerah, retribusi dan Perbankan.

Kedua dapil tersebut, Sumbawa dan KSB sama-sama memiiliki budaya Barapan Kebo dimana Barapan Kebo talah mampu meningkatkan harga jual ternak kerbau disamping mampu mengundang wisatawan baik asing maupun nusantara.

Dikatakannya, harga kerbau jika bukan dipakai untuk Barapan paling tinggi Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per ekor, tapi jika dipakai untuk Barapan harganya bisa mencapai Rp 80 juta hingga Rp 100 juta per ekor.

Beternak kerbau sudah menjadi budaya bagi masyarakat Sumbawa dan di Indonesia ada tiga daerah yang paling menyukai kerbau, yakni Sumatera Barat, Tanah Toraja, Sulawesi Selatan dan Subawa, NTB.
Pada awal Maret 2014 telah diadakan even Barapan Kebo di Sumbawa dengan jumlah peserta mencapai 300 pasang kerbau dan bagi juara umum diberikan hadiah berupa sepeda motor sementara juara kelas disediakan hadiah berupa TV dan kulkas.

Menurut Johan, Komisi IV DPRD NTB sangat mendukung diadakan even Barapan Kerbau, karena mampu meningkatkan nilai jual kerbau sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kerbau yang akan digunakan untuk barapan dipelihara secara khusus artinya diberi makan secara teratur sementara kerbau yang bukan untuk barapan dilepas dan berkeliaran bebas di ladang.

Dia menjelaskan, pada even Barapan Kebo yang akan datang akan di gabung dengan even “Kebomeg” atau kerbau berenang dari darat menuju gili atau Pulau Kecil dan ini baru pertama kali akan digelar.

Menurut sejumlah warga, yang menjadi kendala di Sumbawa sekarang ini masih terjadinya pencurian ternak dengan menggunakan kapal seperti yang terjadi di Dusun Meno, Desa Rhee Kecamatan Rhee Kabupaten Sumbawa dan ini cukup meresahkan masyarakat.

Jumlah ternak khususnya ternak sapi yang berhasil dibawa kabur oleh kawanan pencuri atau perampok dalam beberapa bulan terakhir ini mencapai lebih dari 100 ekor.

Dengan maraknya aksi pencurian ternak sapi milik warga Meno tersebut membuat masyarakat jera atau tidak mau lagi beternak sapi, karena sangat khawatir akan kehilangan sapinya, walaupu diketahui beternak sapi menjadi mata pencarian mereka setelah pertanian. “Untuk itu, diminta kepada Polda NTB agar memerintahkan jajarannya termasuk Polres Sumbawa dan Polsek Rhee untuk melakukan patroli laut guna mencegah tindak kriminal terutama pencurian ternak melalui laut,” pintanya.

Di samping itu, Polisi bekerja sama dengan Pol PP melakukan penyuluhan sekaligus pembinaan kepada masyarakat agar dapat melakukan Siskamling, untuk menjaga keamanan di lingkungan masing-masing, agar tindak kejahatan bisa ditekan.

Dengan adanya patroli oleh pihak berwajib dan Siskamling oleh masyarakat, maka ketentraman dan keamanan akan lebih dirasakan warga dan tidak lagi ketakutan terhadap pelaku kejahatan.

Menyinggung tentang bidang pertanian khususnya tanaman jagung Politisi Udayana itu menjelaskan, tanaman jagung kini benar-benar telah memasyarakat di Sumbawa, karena hampir semua petani mengalihkan tanamannya ke jagung.

Sebelumnya tanaman jagung hanya dipusatkan di daerah transmigrasi di Labangka, namun kini sudah merata, sehingga produksi jagung di Sumbawa melimpah.

Yang perlu menjadi perhatian pemerintah sekarang ini adalah memberikan bantuan kepada petani atau mendirikan pabrik pengolahan jagung, sehingga jagung yang dijual petani tidak dalam bentuk gelondongan.

Masyarakat petani peternak terutama peternak ayam dan ikan sangat membutuhkan pakan, sementara pakan ternak tersebut terbuat dari jagung, sedangkan bahan baku jagung di NTB melimpah. “Sementara kita hanya bisa membatu dari dana aspirasi kepada kelompok-kelompok tani yang ada seperti alat penyemrpot hama dan traktor tangan,” katanya.

Sementara untuk bidang industri terutama industri rumah tangga masih belum segnifikan, karena terkendala pemasaran kecuali insutri Terasi Empang yang sudah dikenal kemana-mana.

“Sedangkan industri lainya seperti berbagai jenis makanan balum begitu nampak kemajuaannya, sehingga membutuhkan perhatian dari memerintah,” pungkasnya. (*)

loading...

LEAVE A REPLY