Disperta Sumbawa Salurkan Bantuan Obat

0
749
loading...
loading...

Sumbawa Besar, Gaung NTB – Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Sumbawa Tahun 2014, akan menyalurkan bantuan berupa obat jenis Pujiwan dan Puannur untuk para petani yang tanaman padinya terkena hama penyakit blas dan kresek/hawar Daun Bakteri. Program penyaluran obat ini akan diberikan di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa.

Disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Perlintan Kabupaten Sumbawa, Usman, SP kepada Gaung NTB, Kamis (13/03), bahwa dua macam penyakit tersebut (blas dan kresek) merupakan jenis penyakit yang sedang marak terjadi dikalangan petani saat ini. Hampir di setiap kecamatan katanya, diserang oleh penyakit tersebut. Program ini kata Usman, rencananya akan diberikan di 24 kecamatan yang ada di wilayah Sumbawa.

Menurut Usman, jumlah bantuan obat yang ada pada tahun 2014 hanya sekitar 400 liter, sehingga untuk penggunaan obat, hanya dikenakan 1 liter perhektar.

Kendati demikian katanya, dengan kurangnya obat ini sehingga Disperta hanya memprioritaskan bagi petani yang tanaman panagannya benar-benar terserang penyakit blas dan kresek. Dan penyalurannya direncanakan akan direalisasikan antara bulan Juli dan Agustus mendatang.

Menurut Usman, penyakit blas atau dikenal dengan istilah Pyricularia Grisea ini merupakan penyakit yang cukup serius disentra produksi tanaman padi. Penyakit blas ini jelasnya, disebabkan oleh patogen cendawan. Penyakit blas dapat menyerang semua bagian tanaman padi mulai dari persemaian, stadia vegetarif, dan stadia generatif yang menyerang leher dan cabang malai.

Penyakit blas jelasnya akan nampak pada seluruh bagian tanaman padi, gejalanya dapat berupa bercak pada daun, malai, batang, dan bulir padi. Pada varietas yang rentan dan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan cendawan blas dapat menyebabkan petani mengalami gagal panen.

Adapun faktor penyebab mengapa penyakit blas ini terjadi lanjut Usman, selain karena faktor linkungan juga terjadi proses pemupukan yang salah yang dilakukan oleh para petani.

Dimana pemupukan seperti jenis Urea yang terlalu tinggi menyebabkan jaringan daun menjadi lemah sehingga spora jamur menginfeksi secara oftimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi. Padahal dalam anjuran teknis Urea hanya boleh digunakan maximal 200 kilogram per hektarnya.

Selain itu sambungnya, kombinasi pemupukan nitrogen yang tinggi tanpa kalium dengan jarak tanam yang rapat juga menjadi faktor tingginya serangan blas leher.

“Tingkat pengetahuan petani ini kan berbeda-beda. ada yang benar-benar faham, ada yang setengah faham dan bahkan ada yang tidak paham sama sekali sehingga menyebabkan para petani ada yang asal-asalan mencampur obat sehingga tidak sesuai dengan aturan” jelasnya.

Untuk itu, kata Usman salah satu bentuk antisipasi supaya penyakit blas ini tidak berlanjut, disarankan kepada para petani untuk melakukan pemupukan yang berimbang harus diperhatikan karena pemupukan nitrogen yang tinggi dapat menyebabkan meningkatnya serangan patogen blas.

Sehingga petani dianjurkan menggunakan pupuk sesuai dosis yang sudah dianjurkan sebelumnya. Pemanfaatan kalium dan phosfat secara berimbang dapat meningkatkan ketebalan lapisan epidermis daun sehingga menghabat penetrasi jamur. selain itu, katanya menghindari penanaman padi secara terus menerus sepanjang tahun dengan jenis yang sama.

Sedangkan untuk penyakit Kresek dikatagorikan sebagai penyakit yang cukup bahaya pada tanaman padi. penyakit kresek sendiri adalah penyakit yang disebakan oleh adanya bakteri xanthomonas sp. Penyakit kresek ini jelasnya ternyata dapat menyerang tanaman padi pada usia muda, bahkan sampai usia lanjut.
Biasnya kata Usman, penyakit ini menyerang sepekan setelah penanaman.

Pada kesempatan itu, Usman juga menyampaikan bahwa selain masalah hama penyakit pada tanaman padi dampak perubahan iklim juga mengancam petani yang berimbas akan terjadi gagal panen. Ini disebabkan karena pada wilayah tersebut tidak tersedianya sumber air sehingga kondisi tanaman tidak stabil karena hanya mengharapkan datangnya hujan saja.

Seperti yang terjadi pada kecamatan Moyo Utara, sekitar 251 Hekatar pada tanaman padi di Desa Penyaring masih dalam keadaan ringan, kemudian kering sedang 29 hektar. Kemudian di Desa Limung padi gogo 135 Hektar kondisinya sudah sangat parah.

Terhadap dampak perubahan iklim nini tentunya petani terancam mengalami gagal panen. Untuk itu bagi petani yang kekurangan pangan nantinya akan diarahkan untuk mendapatkan stok beras.

loading...

LEAVE A REPLY