NTB Tingkatkan Pemahaman Masyarakat Tentang Geopark Dunia

0
2332
loading...
loading...

Mataram, Gaung NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat di sekitar Gunung Rinjani tentang geopark dunia, sebagai bagian dari konsep pengelolaan taman bumi berskala internasional.

“Masyarakat di sekitar Gunung Rinjani terus diberi pemahaman soal geopark dunia, sehingga kami agendakan kegiatan sosialisasi pada 7-8 Februari 2014,” kata Kepala Bidang Fisik Sarana Prasarana dan Tata Ruang Badan Perencanaan dan Pembangunan Dearah (Bappeda) Provinsi NTB I G B Sugiharta, di Mataram, Jumat.

Sesaat sebelum bertolak ke kaki Gunung Rinjani untuk program sosialisasi itu, Sugiharta mengatakan, NTB gencar menyiapkan berbagai persyaratan untuk menjadikan Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai geopark dunia.
Salah satunya yakni pembekalan atau peningkatan pemahaman masyarakat sekitar Gunung Rinjani tentang arti penting geopark dunia. “Harapannya, masyarakat sudah bisa memahami arti geopark dunia saat Tim Unesco berkunjung ke sana (kawasan sekitar Gunung Rinjani),” ujarnya.

Diperkirakan Tim Unesco akan berkunjung ke kawasan sekitar Gunung Rinjani dalam tahun 2014 ini, dan diyakini Gunung Rinjani akan ditetapkan sebagai geopark dunia pada 2015.

Saat ini, Taman Nasional Gunung Rinjani telah resmi berstatus Geopark Nasional, dan pada 14 November 2013, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar atas nama Komite Nasional Indonesia untuk Unesco, menyerahkan sertifikat Rinjani Geopark Nasional, kepada Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, di Mataram. Dengan penyerahan sertifikat itu, maka secara resmi NTB telah memiliki satu geopark nasional, dari total lima geopark nasional yang ada di Indonesia.

Pemerintah Provinsi NTB kemudian meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) guna melengkapi semua persyaratan usulan Gunung Rinjani menjadi geopark dunia. Koordinasi itu dimaksudkan agar dapat mengetahui karakteristik geopark dunia, dan berbagai persyaratannya, agar dapat segera dipenuhi.

Upaya lainnya yakni menjaga kelestarian Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang kini telah menjadi Geopark Nasional, dari aspek geologis, arkeologi, keragaman ekologi serta budaya.Konsep pengelolaan geopark menyatukan antara pengelolaan warisan geologi dan warisan budaya dari suatu wilayah, dan pada dasarnya memiliki tiga tujuan utama, yaitu konservasi, edukasi dan pembangunan berkelanjutan. Kaldera (danau) Segara Anak yang ada di Rinjani misalnya, harus tetap terjaga dari pegunjung agar ekosistem di kawasan itu tetap terpelihara.

Terdapat tiga hal pokok dalam upaya koordinasi dengan pusat, yakni kelestarian geopark, dan promosi, menjadi hal prioritas yang harus dilakukan untuk mencapai kesuksesan status geopark dunia untuk Gunung Rinjani, serta penyiapan dokumen usulan yang pengajuannya melalui pemerintah pusat.

Pengusulan geopark dunia, dilakukan Komite Geopark Nasional Indonesia yang didalamnya terdapat pejabat Kementerian ESDM dan Kemparekraf, serta Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), sesuai prosedur dan mekanisme pengusulan, yang ditujukan kepada Sekretariat Global Geoparks Network (GGN) UNESCO.

Pengusulan Gunung Rinjani menjadi geopark dunia, disampaikan awal 2010 namun terpental dari bursa calon geopark dunia, karena dokumen teknis sebagai berkas pendukungnya belum lengkap. UNESCO kemudian meminta dalam pengajuan usulan itu disertakan dua lokasi lainnya yang juga memungkinkan jadi geopark dunia, sebagai pendamping TNGR.

Dua obyek kawasan sebagai usulan pendamping itu yakni Gua Kapur di Pacitan, Jawa Timur dan Gunung Batur di Kintamani, Bali, dan UNESCO akhirnya menetapkan kawasan Kaldera Gunung Batur Kintamani itu sebagai bagian dari Global Geopark Network (GGN) atau jaringan taman bumi global. Penetapan tersebut dilakukan saat Konferensi Geopark Eropa ke-11 di Geopark Auroca, Portugal, pada 20 September 2012.

Karena itu, para ahli geologi kemudian mengusulkan Gunung Rinjani sebagai geopark nasional yang kini sudah resmi ditetapkan sebagai geopark nasional setelah semua persyaratannya dilengkapi. Saat itu, TNGR diusulkan menjadi calon geopark dunia ke Uniesco karena memiliki sedikitnya lima hal pokok untuk menjadi geopark global.
Kelima hal pokok itu pertama, Gunung Rinjani memiliki nilai-nilai warisan geologi penting dari aspek kegunungapian, situs warisan alam berupa kaldera, kerucut-kerucut gunung api muda, lapangan solfatara, mata air panas dan bentangan lainnya yang mempunyai nilai estetika tinggi seperti air terjun.

Ke dua, situs-situs geologi gunung api mempunyai makna bagi pengembangan ilmu pengetahuan kebumian dan pendidikan. Selain itu Gunung Rinjani telah mempunyai badan pengelola yakni Rinjani Tracking Manajemen Board (RTMB) yang melibatkan warga lokal setempat secara aktif.

Penyelenggara pariwisata berbasis geologi yang telah banyak memberi manfaat berupa pertumbuhan ekonomi lokal melalui jasa pemandu, penginapan, rumah makan, transportasi dan penjualan cinderamata.

Sementara yang terakhir, sebagai bentuk keberhasilan pengembangan pariwisata karena Gunung Rinjani telah memperoleh tiga penghargaan internasional yakni “World Legacy Award” untuk kategori “Destination Stewardship” dari “Conservation International and National Geographic Traveler” 2004, finalis “Tourism for Tomorow Award” masing-masing 2005 dan 2008.

Kawasan TNGR yang kini telah beralih status menjadi Rinjani Geopark Nasional, mencakup sebagian wilayah Kabupaten Lombok Barat seluas 12.360 hektare meliputi dua kecamatan dengan 15 desa, Lombok Tengah seluas 6.824 hektare yang mencakup dua kecamatan tersebar pada lima desa dan Kabupaten Lombok Timur pada tujuh kecamatan yang tersebar pada 17 desa dengan luas kawasan 22.146 hektare.

Salah satu pesona unggulan TNGR adalah Danau Segara Anak yang berada pada ketinggian 2.010 meter dari permukaan laut. Danau Segara Anak berada di sebagian Gunung Rinjani yang tingginya mencapai 3.726 meter dari permukaan laut.

loading...

LEAVE A REPLY